MEMBAGIKAN ROTI KEHIDUPAN DALAM PERAHU YANG BERGOLAK
( Bulan Kebangsaan ) – Matius 14:22-33
(Ay 31-33): 31 Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata: “Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?”32 Lalu mereka naik ke perahu dan anginpun redalah.33 Dan orang-orang yang ada di perahu menyembah Dia, katanya: “Sesungguhnya Engkau Anak Allah.”
“ Salam sejahtera, kasih dan kedamaian Kristus menyertai saudara sekalian “
Bagi kita masyarakat Indonesia, bulan Agustus menjadi bulan yang penting. Pada bulan ini, kita diajak untuk mensyukuri dan menghayati kembali kemerdekaan yang telah Tuhan anugerahkan kepada kita sebagai sebuah bangsa. Kemerdekaan dalam konteks ini adalah kemerdekaan secara politik, bahwa kita tidak lagi dibelenggu oleh tirani penjajah yang merenggut kebebasan kita sebagai sebuah bangsa. Kemerdekaan itu ditandai dengan dibacakannya Proklamasi Kemerdekaan RI pada tanggal 17 Agustus 1945. Kini, telah 81 tahun Indonesia menjalani hidup sebagai sebuah bangsa yang merdeka. Namun demikian, perjuangan kita belum usai, sebab sering kali tantangan justru datang dari dalam bangsa sendiri. Khotbah minggu ini akan difokuskan pada bacaan Injil Matius 14:22–33 yang mengingatkan kita untuk senantiasa menjaga iman percaya kita kepada Tuhan. Iman yang lahir dari perjumpaan secara pribadi dengan Tuhan, bertumbuh di dalam hati, akan tampak keluar dengan sendirinya melalui sikap hidup yang mendatangkan damai sejahtera (Roma 10:5–15). Orang percaya didorong untuk memiliki kepekaan terhadap kesehatan kehidupan spiritual dan emosinya, sehingga mampu menemukan Tuhan dalam segala situasi (1 Raja-raja 19:9–18).
Kita dapat membayangkan betapa para murid berada dalam ketakutan di atas kapal. Mereka lelah secara fisik, pikiran, dan emosi. Kira-kira jam 3 pagi, Yesus datang berjalan di atas air (ay. 25). Dalam kondisi tubuh yang lelah dan takut, mereka tidak menyangka bahwa yang mereka lihat adalah Tuhan. Mereka menyangka, “Itu hantu”. Rasa lelah dan takut, jika tidak dikelola dengan baik, dapat berkembang menjadi keputusasaan, sebelum akhirnya menjadi ketidakpercayaan. Itulah sebabnya, Yesus sendiri segera menampakkan diri, berjalan di atas air, dan menghampiri murid-murid-Nya yang sedang dalam situasi gawat itu, seraya berkata, “Tenanglah! Ini Aku, jangan takut!” Dalam situasi genting, yang dibutuhkan memang bukan kepanikan, tetapi kesediaan diri orang beriman untuk dipakai Tuhan dalam karya penyelamatan yang sedang dikerjakan-Nya. Maka, bila carut marut persoalan terjadi di tengah kehidupan berbangsa, gereja juga tidak boleh lari, tetapi justru harus masuk dalam ruang gumul juang bersama sembari berdoa, “…inilah aku, utuslah aku…” Dengan doa kepasrahan itu, keyakinan Petrus dikuatkan dan dikukuhkan hingga mampu berjalan di atas air. Prahara dikalahkannya! Bila tak lama kemudian ia mulai tenggelam, itu karena kata ayat 30, “…dirasanya tiupan angin…!” Jadi, perasaannyalah yang membuatnya tenggelam. Maka Yesus menegurnya dengan berkata, “Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?” (Mat. 14:31). Keraguan dan kebimbangan menapaki jalan pelayanan, rupanya menunjuk pada sikap iman yang kurang serius. Maka kita perlu membuangnya jauh-jauh, dengan cara memelihara fokus pelayanan kita hanya kepada Tuhan. Selebihnya, Tuhan yang akan memampukan dengan uluran tangan-Nya. Sekarang, uluran tangan Tuhan itu diarahkan kepada gereja-Nya. Di tengah kehidupan berbangsa, gereja diutus-Nya masuk ke dalam pusaran persoalan dan penderitaan, agar tidak berpotensi menghadirkan ketidakpercayaan pada orang-orang yang mengalaminya. Gereja perlu memiliki keberanian melakukan karya di tengah kehidupan bersama. Berani bukan karena kekuatannya, tetapi karena keyakinan bahwa Allah menyertai karya-Nya. Dengan cara itu, gereja tetap membagikan Roti Kehidupan, bukan hanya dalam situasi tenang dan baik-baik saja, tetapi juga dalam pergolakan persoalan yang paling rumit sekalipun.
Gereja sebagai bagian dari sebuah bangsa memiliki tanggung jawab untuk menyuarakan suara kenabiannya. Tugas ini mengandung konsekwensi yang terkadang tidak mudah. Oleh karena itu, diperlukan kepekaan gereja (sebagai pribadi maupun lembaga) untuk senantiasa merasakan kehadiran Tuhan dalam setiap peristiwa hidup yang dilalui. Gereja perlu memiliki pengetahuan serta pengalaman yang benar tentang karya Tuhan, bahwa Tuhan berkarya baik dalam suka maupun duka, dalam keadaan yang baik maupun dalam kesukaran hidup yang kita alami.AMIEN.
-[khotjang Sinode GKJ – Agt 2026]-