RENUNGAN WARTA GEREJA GKJ KLATEN MINGGU, 13 SEPTEMBER 2026

MENGAMPUNI ITU HEBAT

Bulan Katekese Liturgi

(Matius 18:21-35)

35  Maka Bapa-Ku yang di sorga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu.”

“ Salam Sejahtera, kasih dan Karunia Tuhan Yesus bagi saudara sekalian “

Mengampuni bukan hal yang mudah untuk dilakukan bahkan terdengar konyol bagi kita yang merasa sakit hati dengan perlakuan orang kepada kita. Secara naluriah kita akan merasa sakit hati oleh karena perlakuan buruk dari orang dan hasil dari rasa marah tersebut adalah upaya untuk membalas kejahatan mereka dengan sesuatu yang lebih besar dan menyakitkan. Berbeda dengan apa yang ada dalam pikiran para khalayak, Yesus justru mengajarkan untuk mengampuni orang yang bersalah kepada kita. Ia bahkan telah memberikan teladan secara langsung tentang bagaimana mengampuni harus dilakukan. Dengan demikian meskipun terdengar sulit dan berat namun mengampuni adalah bagian yang harus kita lakukan karena mengampuni merupakan  panggilan Tuhan terhadap seluruh pribadi Umat-Nya.

Bacaan Injil ini merupakan rangkaian kisah panjang pengajaran Yesus melalui bergai-bagai perumpamaan. Hal mengampuni juga menjadi bagian pengajaran yang Tuhan Yesus sampaiakan, melalui Petrus yang dalam kisa ini tiba-tiba datang kepada Yesus dengan pertanyaan mengenai pengampunan kepada orang lain yang telah berbuat salah kepadanya. Petrus menawarkan untuk mengampuni sebanyak tujuh kali (ayat 21). Model pertanyaan Petrus sebenarnya yang harapannya dijawab dengan jawaban ‘ya’, karena ia yakin betul bahwa itu sudah lebih dari cukup. Dalam tradisipengajaran rabinin seseorang harus mengampuni saudaranya sampai tiga kali. Rabi Yose bin Hanina berkata “Orang tidak boleh minta pengampunan dari sesamanya lebih dari tiga kali”. Pertanyaan para rabi sesungguhnya juga sejalan dengan pengampunan yang pernah dinyatakan Tuhan pada pembukaan Kitab Amos. Berbagai hukuman yang diberikan kepada Israel pada masa Amos terjadi karena “tiga perbuatan jahat, bahkan empat” (Amos 1:3, 6, 9, 13; Amos 2:1, 4, 6). Dengan demikian disimpulkan bahwa pengampunan Allah diberikan terhadap tiga kali pelanggaran, namun tidak untuk yang keempat kalinya.

Bagi kita dewasa ini, mengampuni kesalahan hingga tiga kali adalah sesuatu yang luar biasa. Maka apa yang ditawarkan Petrus dengan pengampunan sebanyak tujuh kali adalah sesuatu yang besar, sesuatu yang hebat. Petrus bisa jadi berfikir bahwa ia sudah jauh lebih maju dari pada para rabi Yahudi tentang pengampunan. Sudah dilipatkan lebih dari 100 persen. Bahkan angka yang dipilih adalah angka tujuh, sebagai angka sempurna bagi orang Yahudi. Namun ternyata jawaban Yesus diluar dugaan. Yesus tidak menjawab pertanyaan Petrus dengan jawaban ‘ya’ atau ‘kamu hebat’; Ia justru menjawabnya dengan ‘bukan!’. Yesus melanjutkan dengan pernyataan ‘bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh. Pernyataan Yesus yang diluar dugaan tidaklah perlu dipamahi sebagai hitungan matematika, bahwa kita harus mengampuni sebanyak 70×7 = 490 kali. Yang hendak dimaksudkan oleh Yesus adalah sebuah pengampunan tanpa batas, karena tidak mungkin kita akan mencatat kesalahan orang kepada kita pada buku catatan kita, kemudian saat sudah mencapai lebih dari 490 kali maka saatnya bagi kita untuk melakukan pembalasan. Bukan itu! Panggilan Yesus adalah tentang pengampunan tanpa batas. Penjelasan Yesus akan hal ini, disampaikan dalam kisah perumpamaan dalam bacaan Injil ini. Bagaimana seorang yang berhutang begitu banyak kepada Raja, dan hamba ini dibebaskan dari semua tanggungan hutangnya oleh belaskasihan Raja. Namun hamba ini malah mencekik dan mengajukan kepengadilan temannya yang berhutang tak seberapa kepadanya. Mendengar hal tersebut, sang raja marah dan meminta algojo untuk menangkap hamba tersebut dan meminta ia untuk melunasi hutangnya.

Melalui Perumpaan tersebut Tuhan Yesus ingin mengingatkan betapa manusia telah diampuni dari dosa-dosanya yang begitu banyak, masakan manusia tidak mau mengampuni kesalahan sesamanya. Jika kita adalah orang yang sudah mendapatkan ampunan, mengapa kita kerap kali susah mengampuni sesama? Sudah seharusnya kita semua bisa merespon pengampunan yang telah Tuhan berikan kepada kita dengan mengampuni pula sesama yang bersalah kepada kita. Kita telah diampuni dari banyaknya pelanggaran dan dosa, maka sudah seharusnya kita mengampuni sesama kita, bahkan tanpa batas.MENGAMPUNI itu HEBAT…! AMIEN.

== [Khotjang Sinode GKJ – Sep 2026] ==

Scroll to Top