MENGAKARKAN SABDA, MEMBUAHKAN KASIH
(Matius 21:33-46)
ay.42 Kata Yesus kepada mereka: “Belum pernahkah kamu baca dalam Kitab Suci: Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru: hal itu terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita.43 Sebab itu, Aku berkata kepadamu, bahwa Kerajaan Allah akan diambil dari padamu dan akan diberikan kepada suatu bangsa yang akan menghasilkan buah Kerajaan itu.
“ Salam sejahtera, dan selamat memasuki Bulan Keluaraga tahun 2026 “
Pada awal tahun 2026, FullerYouthInstitute (FYI) merilis hasil penelitian mengenai hubungan antara Generasi Alpha dan perkembangan iman.[1] Penelitian ini melibatkan sekitar 3.000 responden anak dan remaja guna memperoleh gambaran yang representatif terkait faktor-faktor yang memengaruhi pertumbuhan iman mereka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran orang tua menempati posisi paling dominan sebesar 65% dalam membentuk iman anak. Di Indonesia sendiri, Bilangan Research Center (BRC) juga merilis penelitian hal yang sama tentang topik perkembangan spiritualitas generasi muda Kristen di Indonesia, data yang ditunjukkan tidaklah jauh berbeda tentang peranan orang tua yang masih sangat besar dalam pertumbuhan spiritual anak. Jadi kesimpulan dari kedua penelitian ini: keluarga, khususnya orang tua, tetap menjadi pusat gravitasi dalam pembentukan iman. Artinya, sekalipun dunia berubah bahkan setelah pengalaman besar seperti pandemi fondasi spiritual anak tetap berakar kuat pada relasi yang paling dekat dengan mereka. Keluarga bukan sekadar ruang pertama, tetapi juga ruang yang paling utama membentuk arah iman seseorang.
Dari sinilah percakapan bergeser ke hal yang lebih mendasar: apa yang sebenarnya menghidupi keluarga itu sendiri? Dalam tradisi iman Kristen, jawabannya tidak terlepas dari peran Sabda Allah. Kehadirannya bukan sekadar elemen tambahan, melainkan inti yang memberi arah dan makna. Tanpa Sabda Allah yang hidup di dalam relasi sehari-hari, sulit membayangkan iman yang bertumbuh secara kokoh dan berakar.Namun, persoalannya tidak berhenti pada sekadar mengakui pentingnya Sabda Allah. Tantangan yang sebenarnya adalah bagaimana Sabda itu sungguh-sungguh dijalani dalam kehidupan sehari-hari. Ia tidak cukup jika hanya dihafal atau ditaati sebagai aturan dari luar. Sabda Allah baru menjadi hidup ketika meresap ke dalam cara kita berpikir, membentuk sikap hati, dan perlahan tampak nyata dalam tindakan sederhana setiap anggota keluarga.
Dalam Injil Matius 21:33–46, Tuhan Yesus menyampaikan perumpamaan tentang penggarap kebun anggur. Sekilas, kisah ini tampak seperti kegagalan menjalankan tugas. Namun jika dibaca lebih dalam, perumpamaan ini menyentuh sesuatu yang lebih mendasar: kegagalan manusia dalam mengelola kepercayaan dan kasih yang telah dipercayakan kepadanya. Pemilik kebun dalam cerita itu telah menyediakan segalanya. Ia menanam kebun anggur, memasang pagar, menggali tempat pemerasan, bahkan membangun menara pengawas (ay.33). Semua ini menunjukkan bahwa kehidupan sudah dipersiapkan dengan baik: ada struktur, perlindungan, dan kemungkinan untuk berbuah. Namun masalah muncul ketika tiba waktunya untuk memberikan hasil (ay.34). Para penggarap menolak para utusan yang datang. Relasi yang seharusnya komunikatif menjadi konspiratif. Relasi yang semestinya dibangun di atas kejujuran dan keterbukaan berubah menjadi perhitungan dan manipulasi. Para penggarap mulai bertindak seolah-olah kebun itu milik mereka. Mereka tidak lagi melihat diri sebagai penerima kepercayaan, tetapi sebagai pemilik mutlak. Di titik ini, relasi berubah menjadi penguasaan yang cenderung merusak.Ketika manusia ingin menjadi pusat, maka segala sesuatu yang datang dari Allah termasuk kebenaran dan kasih-Nya akan terasa mengancam. Akibatnya, manusia bukan hanya mengabaikan Allah, tetapi secara aktif menolak-Nya.Akhirnya, perumpamaan ini mengajak kita bercermin. Kebun itu tetap milik Sang Pemilik. Kebenaran tidak pernah benar-benar hilang, dan kasih tidak berhenti memanggil. Pertanyaannya bukan lagi tentang para penggarap dalam cerita, tetapi tentang bagaimana kita merespons kepercayaan yang telah diberikan. Apakah kita hidup dalam keterbukaan dan tanggung jawab, atau justru terjebak dalam keinginan untuk menguasai dan memiliki? Di sanalah arah hidup kita sebenarnya sedang ditentukan.AMIEN. [MHB 2026-Sinode GKJ].