MENGUASAI DIRI DALAM KERENDAHAN HATI DAN MELAYANI
(Matius 23:1-12)
11 Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu.
12 Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.
“ Salam sejahtera, Kasih dan Berkat dari Tuhan Yesus ada pada saudara sekalian “
Memasuki Minggu biasa di Bulan November ini, tema renunga akan membawa jemaat semakin menghayati bahwa sebagai kawan sekerja Allah, dirinya diciptakan menjadi pemimpin yang meneladani Kristus, yaitu hidup menjadi berkat dengan jalan mampu menguasai diri dalam kerendahan hati dan melayani. Tampaknya, manusia sendiri lupa bahwa kodrat dirinya sebagai gambar dan rupa Allah. Maka, Tuhan sejatinya menciptakan manusia juga sebagai pemimpin. Ia diberi kuasa baik atas dirinya maupun atas ciptaan-Nya, sekaligus bertanggung jawab sebagai penatalayan Allah. Karena itu kepemimpinan tidak dapat dilepaskan dari relasi dengan Allah, Sang Empunya Kuasa dan juga tidak dapat dilepaskan dari tanggung jawab untuk melayani, sebagaimana tindakan kuasa Allah melalui karya Yesus Kristus, kita mendapat keteladanan dalam kepemimpinan-Nya. Yesus menunjukkan kekuasaan-Nya bukan dengan meninggikan hati, melainkan merendahkan diri. Bukan dengan memerintah, tetapi memberi teladan. Bukan dengan menuntut, namun justru dengan melayani. Inilah kepemimpinan Kristen yang menjadi mental dan karakter manusia baru di dalam Kristus!
Bagian ini menceritakan tentang kritik Yesus mengenai ahli-ahli Taurat dan orang Farisi, dan secara terus terang Yesus menentang mereka. Inti perikop ini ada dua bagian. Pertama, Yesus mengakui jabatan mereka (Matius 23:2-3). Kedua, Yesus memperingatkan murid murid-Nya agar tidak meniru kemunafikan dan kesombongan mereka (Matius 23:4-12). Itu sebabnya, Yesus mengatakan, secara jabatan mereka duduk di kursi Musa, memiliki otoritas yang patut dihormati (Matius 23:2).
Ajaran mereka tentu patut dituruti, tetapi jangan tingkah laku mereka. Apa saja kritik Yesus terhadap pemuka agama Yahudi? :1).Mereka tidak mempraktikkan apa yang mereka ajarkan. Dengan demikian mereka bertindak munafik. 2). Tidak bersedia melakukan apa yang mereka perintahkan kepada para pengikutnya. 3). Senang menonjolkan diri. Pelayanan mereka jelas mengutamakan kepentingan diri sendiri. 4).Suka menerima penghormatan dari orang dan senang mendapatkan gelar-gelar prestise, seperti rabi. Dengan kata lain, mereka gila hormat dan merampas kemuliaan Tuhan, Sang Empunya pelayanan! 5). Salah mengerti prinsip pelayanan, karena orientasi pelayanan mereka adalah diri sendiri! Melalui kritik ini Yesus justru menunjukkan prinsip dan motivasi pelayanan dalam kepemimpinan Kristen. Pelayanan janganlah dilihat sebagai kesempatan untuk memperkaya diri, baik dari materi maupun dari kehormatan diri. Yesus sendiri menjadi teladan dalam kepemimpinan. Melayani bukan meninggikan diri, namun justru merendahkan diri sebagai pelayan demi sesama manusia. Bukan pula menuntut dan membebani orang lain, namun justru menjadi teladan supaya dapat berdampak dan diteladani orang lain!
Karena itu melalui renungan inijemaat diajak memahami bahwa kekuasaan dapat menciptakan penindasan dan ketidakadilan baik di dalam lembaga politik (pemerintah), ekonomi (bisnis) hingga spiritual (agama). Pemimpin sejati dalam bidang apa pun, harus menjaga diri bahwa kehormatan adalah milik Tuhan. Sehingga tidak mengutamakan dan mementingkan diri. “Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu” (Matius 23:11). Kebesaran seorang pemimpin terdapat dalam sikap hamba bukan sikap tuan. Pribadi yang tunduk di bawah otoritas Allah, adalah pribadi yang mampu mengalahkan diri. Pribadi yang memuliakan Allah adalah pribadi yang bersedia melayani yang rendah dan yang lemah.AMIEN.
== [Khotjang GKJ – Nov 2026] ==