RENUNGAN WARTA GEREJA GKJ KLATEN MINGGU, 06 SEPTEMBER 2026

IBADAH SEBAGAI PILIHAN KEPADA KEHIDUPAN

Matius 18: 15-20

( BULAN KATEKESE LITURGI )

19  Dan lagi Aku berkata kepadamu: Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apapun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga.20  Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.”

“ Salam Sejahtera dari Tuhan Yesus bagi saudara sekalian “

Ibadah merupakan sarana pembangunan hubungan dialogis antara umat dan Tuhan. Dengan beribadah setiap orang bertegur-sapa dengan Tuhan. Tuhan memberikan firman-firmanNya, manusia menanggapi dalam bentuk litani melalui liturgi dalam ibadah. Dengan jalan demikian, maka ibadah Kristen menjadi ibadah yang hidup. Dalam realita kehidupan sehari-hari, umat sering diperhadapkan bahwa aktivitas keseharian mereka memaksa untuk “tidak beribadah”. Apapun aktivitas yang umat lakukan, dalam keadaan yang demikian, maka umat masih perlu diingatkan tentang pentingnya ibadah. Namun toh harus diakui bahwa berbagai macam kepentingan selalu akan membersamai kesadaran tentang beribadah ini. Menegur adalah salah satu jalan, untuk setiap orang saling mengingatkan. Kesadaran akan panggilan kehidupan keumatan harus selalu disegarkan. Di sinilah letak pentingnya menegur. Dengan teguran akan pentingnya beribadah, umat akan semakin disegarkan tentang pentingnya membangun relasi dengan Tuhan. Baik dalam ibadah, maupun dalam setiap laku kehidupan yang dilakukannya.

Perikop ini menarasikan tentang langkah-langkah bijaksana dalam menegur – mereka yang berdosa. Ayat 15: “Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali.” Merupakan harapan idealnya. Sekali ditegur – empat mata – menghasilkan perubahan. Tentu hal tersebut ideal, mengingat permasalahannya tidak perlu diketahui oleh pihak lain, selain orang yang menegur. Inilah kenyatan hidup. Sesuatu yang menjadi harapan tidaklah selalu mulus dan gampang. Ada saja hambatannya. Terkait menegur, bahwa ternyata tetap ada hambatannya. Ada ketidak-terimaan, merasa benar, gengsi jika ditegur, berbalik menyalahkan, dan masih banyak lagi. Itu adalah permasalahan yang muncul tatkala seseorang menegur sesamanya. Menyikapi hal semacam itu, kita tidak boleh gegabah dan bingung. Ayat 18: Aku berkata kepadamu: “ Sesungguhnya apa yang kamu ikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kamu lepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.”Menegaskan tentang keadaan tersebut. Banyak hal yang dilakukan manusia semasa hidup, merupakan rekaman yang seolah-olah akan terputar ketika mereka meninggal. Inilah yang disebut pilihan. Pilihan untuk – mengisi – hidup seperti apa (?)

Relasa dengan saudar seiman, sesama orang percaya di dalam iman kepada Tuhan Yesus, dijalani dalam ikatan persekutuan dan peribadahan bersama-sama. Di sinilah tempat dan ruang saling menegur antar sesama saudara se-iman. Oleh karenanya setiap orang didalam jemaat harus beribadah! Supaya hidup pribadinya di tengah dunia ini senantiasa dalam tuntunanbisa hidup di dalam kebenaran Tuhan. Salah satunya berkenan bersekutu sekalipun bisa saja mendapatkan teguran.  Bentuk kalimat perintah ini perlu untuk dicermati. Apalagi di jaman ini, kita diperhadapkan pada keadaan bahwa kebebasan (dalam hal apapun) merupakan sesuatu yang sedang didengung-dengungkan. Namun perintah tentang keharusan beribadah tentu penting untuk selalu didengungkan juga. Jika tidak, bisa jadi banyak jemaat akan lalai atapun melalaikan pentingnya ibadah dalam rangkaian kehidupan mereka.AMIEN.

[KhotjangBln Sep 2026-Sinode GKJ]

Scroll to Top