RENUNGAN WARTA GEREJA GKJ KLATEN MINGGU, 07 JUNI 2026

LEMBAGA KRISTEN SEBAGAI PIRANTI PELAYANAN GEREJA

( Bulan Kesaksian dan Pelayanan )

Matius 25:31-46

40  Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.

“ Salam sejahtera, kasih karunia dan damai Tuhan Yesus menyertai saudara sekalian “

Ketika berkarya dalam rupa manusia di bumi, Tuhan Yesus sendiri telah mengerjakan pelayanan yang holistik dalam setiap perjumpaan Nya dengan umat. Tidak hanya mengajar tentang doktrin dan tata kehidupan kepada umat, namun Ia juga menyentuh dan menjawab persoalan-persoalan kehidupan yang dialami. Tidak jarang Yesus justru menyapa dan membersamai orang-orang yang terpinggirkan, lemah, rentan dan tak berdaya. Hal ini menunjukkan sikap kasih yang nyata dalam tindakan. Oleh karenanya, gereja yang merupakan tubuh Kristus juga perlu terus menjaga arah geraknya sesuai dengan teladan dan arahan Sang Kepala Gereja. Jika Kristus terus menyatakan kasih dalam karya pelayanan-Nya di bumi, maka gereja pun seharusnya mengerjakannya dalam karya di lingkungannya. Memang semangat ini sudah ada dalam gereja, bahkan melalui lembaga-lembaga khusus, gereja telah hadir menjumpai kelompok kelompok rentan, lemah, dan terpinggirkan. Namun jangan sampai gereja terlena, dan kehilangan visi. Sibuk dengan pergulatan keseharian, dan melupakan perannya melalui dan bersama lembaga lembaga bentukan gereja itu untuk terus berkarya dan menyatakan kasih.

Bagian firman Tuhan ini mengungkapkan aspek eskatologis namun juga etis yang mewujud dalam perilaku hidup sehari-hari. Umat diajak melihat bahwa penghakiman tidak didasarkan pada pengetahuan tentang siapakah Kristus itu, tetapi apa yang menjadi tindakan dalam kehidupannya sehari-hari. Tentu hal ini bukan sedang menekankan bahwa keselamatan diperoleh karena perbuatan baik dan perilaku sosial seseorang (ayat 34). Namun tindakan kasih yang nyata melalui perbuatan sosial kepada kelompok yang terpinggirkan ini merupakan ciri umum yang mestinya muncul dalam kehidupan orang percaya. Jadi jika seseorang benar-benar percaya dan mengasihi Kristus, sudah seharusnya ia pun mengasihi sesamanya.Menariknya bahwa dalam Alkitab, kita menemukan hanya dua kali Yesus mengidentifikasikan diri dengan suatu kelompok. Yang pertama adalah dalam perikop ini di mana Ia mengidentifikasikan diri dengan orang-orang yang lapar, haus, sebagai orang asing, telanjang, sakit dan terpenjara (ayat 35-40). Dan yang kedua adalah ketika menjumpai Paulus dalam perjalanan ke Damsyik, di mana Ia mengidentifikasikan diri dengan orang-orang percaya yang dianiaya oleh Paulus (Kisah Para Rasul 9:4-5). Hal ini mendorong untuk melihat bahwa perjumpaan dengan kelompok kelompok itu adalah perjumpaan dengan Yesus. Dan apa yang dilakukan kepada kelompok-kelompok itu juga adalah wujud sikap kepada Yesus.

Lembaga-lembaga bentukan gereja untuk mengerjakan pelayanan kasih melalui karya sosial, perlu dirawat dan didukung. Gereja juga perlu menjaga visi dan semangat untuk berperan, melalui dan bersama dengan lembaga-lembaga tersebut. Hal ini mesti dihayati sebagai upaya gereja hadir, menyapa dan mengasihi orang orang yang rentan, lemah dan terpinggirkan. Sebab Kristus sendiri senantiasa mengasihi mereka bahkan mengidentifikasi diri dalam rupa mereka. “ Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.´AMIEN.[Minggu Biasa-2026]