MEMBANGUN BANGSA DENGAN SEMANGAT INKLUSIF
Bulan Kebangsaan – 2026
(Matius 15:21-28)
ay.27 Kata perempuan itu: “Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya.”ay.28 Maka Yesus menjawab dan berkata kepadanya: “Hai ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki.” Dan seketika itu juga anaknya sembuh.
“ MERDEKA…! MERDEKA…! MERDEKA … !, Salam sejahtera bagi saudara sekalian “
Sejarah bangsa Indonesia dibangun dengan keberagaman. Semboyan nasional Indonesia adalah Bhineka Tunggal Ika yang berarti “berbeda-beda tetapi tetap satu”. Semboyan nasional ini menegaskan bahwa Indonesia yang terdiri dari berbagai suku, agama, ras, bahasa, dan budaya tetap bersatu sebagai satu kesatuan bangsa. Namun perkembangan dan kemajuan zaman tidak hanya berdampak satu arah dalam keterbukaan, tetapi juga menimbulkan respon balik dalam sikap eksklusif dan diskriminatif. Demikian juga dalam usia 81 Tahun Kemerdekaannya, Republik Indonesia tidak serta merta menjadi bangsa yang dewasa dalam keberagaman. Peristiwa intoleransi dan diskriminatif masih terus menjadi tantangan kehidupan kebangsaan kita. Banyak faktor yang menyebabkan masyarakat bisa menjadi eksklusif dan diskriminatif, di antaranya faktor status sosial dan ekonomi, keinginan mempertahankan identitas sosial, pengaruh sistem nilai dan budaya hingga perkembangan media sosial dan era digital yang membentuk perilaku personalisasi dan konsumerisme.
Dalam bacaan Injil hari ini mengisahkan Tuhan Yesus menyembuhkan anak perempuan dari seorang perempuan Kanaan. Tindakan ini menunjukkan bahwa kepedulian-Nya tidak dibatasi hanya kepada suku-Nya sendiri. Setelah mengalami pertentangan dengan ahli Taurat dan orang Farisi (ayat 1-20), Yesus memilih untuk menyingkir ke tempat yang sunyi di daerah Tirus dan Sidon (ayat 21). Namun kedatangan Nya ke wilayah non Yahudi tersebut diketahui oleh seorang perempuan Kanaan yang anaknya kerasukan setan dan memohon belas kasih Yesus. Awalnya Yesus tampak mengabaikannya, bahkan seakan menolak untuk melayani seorang perempuan asing. Yesus berkata, “Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel” (ayat 24). Dalam suasana Bulan Kebangsaan 2026 dan merayakan HUT Kemerdekaan RI ke-81 kita memperteguh kembali semboyan nasional “Bhineka Tunggal Ika” yang artinya berbeda-beda tetapi tetap satu. Semboyan itu menegaskan bahwa bangsa Indonesia didirikan dengan semangat inklusif. Namun perkembangan zaman menunjukkan lunturnya kebersamaan dengan berbagai fenomena intoleransi dan diskriminasi. Bacaan Alkitab hari ini kita dapat meneladani sikap iman inklusif dari perempuan Kanaan. Pertama, tidak takut melawan sistem yang diskriminatif dan menyingkirkan (marginal).Kedua, tetap rendah hati, namun tahan uji dan tidak menyerah. Ia berbicara dengan penuh hormat dan harapan, walaupun menghadapi tantangan. Ketiga, percaya bahwa keadilan dan kebaikan Tuhan layak diperjuangkan. Ia yakin bahwa kebaikan Tuhan berlaku untuk semua umat manusia, tanpa terkecuali.
Dengan semangat inovatif dan terbuka terhadap keberagaman, Gereja diajak untuk keluar dari zona nyaman, melawan ketidakadilan dengan kasih, dan membangun persatuan tanpa terjebak pada batas suku, agama, atau kelompok, sehingga gerejasemakin dinamis dan kreatif dalam turut ambil bagian terciptanya transformasi spiritualdan soal bangsa Indonesia yang maju dan sejahtera.MERDEKA…! MERDEKA…! MERDEKA…!.. Amien. [Khotjang GKJ – Agts 2026].