RENUNGAN WARTA GEREJA GKJ KLATEN MINGGU, 20 SEPTEMBER 2026

KASIH TUHAN UNTUK SEMUA

(Bulan Katekese Liturgi)

Matius 20:1-16

Ay.14  Ambillah bagianmu dan pergilah; aku mau memberikan kepada orang yang masuk terakhir ini sama seperti kepadamu.15  Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati?16  Demikianlah orang yang terakhir akan menjadi yang terdahulu dan yang terdahulu akan menjadi yang terakhir.”

“ Salam Sejahtera, Kedamaian dan Keselamatan dari Tuhan Yesus ada bagi saudara sekalian “

Banyak teori tentang konsep keadilan. Secara sederhana, keadilan dapat dibedakan menjadi dua jenis. Pertama, keadilan distributif, yaitu setiap pihak menerima bagian yang sama rata. Kedua, keadilan proporsional, yaitu setiap orang menerima bagian sesuai dengan proporsinya. Tuhan memiliki ukuran keadilan yang berbeda, yang didasarkan pada kemurahan hati-Nya. Tuhan memiliki kewenangan untuk mencurahkan kasih-Nya kepada semua orang tanpa terkecuali, berdasarkan ukuran-Nya, bukan ukuran manusia. Karena itu, dalam pandangan manusia, keputusan Tuhan seringkali tidak dapat menyenangkan semua pihak. Sebagai orang percaya, dalam menjalani hidup sehari-hari bersama orang lain, kita perlu memiliki pedoman sikap yang benar. Bagi kita, pedoman tersebut adalah ajaran dalam Alkitab.

Pada bacaan Injil ini, Yesus sedang berbicara tentang Kerajaan Surga. Kerajaan Surga diumpamakan seperti seorang pemilik kebun anggur yang pagi-pagi benar mencari pekerja untuk kebunnya (ayat 1). Ia dan para pekerja sepakat bahwa mereka akan mendapatkan upah satu dinar sehari (ayat 2). Pemilik kebun juga menambah pekerja  setelah pukul 9 pagi, 12 siang, 3 sore, dan 5 petang. Pekerjaan ini diberikan bagi mereka yang sampai pada jam-jam tersebut masih menganggur, dan kepada mereka pemilik kebun ini mengundang untuk bekerja di kebunnya.

Pada malam hari, pemilik kebun membagikan upah kepada semua pekerja, masing-masing menerima satu dinar sesuai kesepakatan, sekalipun mereka memulai bekerja pada waktu yang berbeda. Melalui perumpamaan ini, kita dapat menangkap tiga hal penting yang ditekankan: 1). Kemurahan hati Allah tidak berdasarkan pada apa yang dilakukan oleh seseorang. Sepenuhnya berdasarkan kemurahan dan kasih Tuhan sendiri. 2). Keluhan para pekerja yang bekerja paling awal dan jawaban pemilik kebun, menunjukkan bahwa ukuran keadilan manusia dan Tuhan berbeda. Tuhan tidak melanggar kesepakatan, karena Ia membayar upah sesuai kesepakatan, yaitu satu dinar sehari. “Upah” atau berkat yang kita terima didasarkan pada kemurahan hati dan keadilan Allah, bukan atas inisiatif atau pertimbangan manusia. Ucapan pemilik kebun anggur (ay.15):“Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati? ” (ay.15).Hal ini menyiratkan bahwa Allah memiliki hak prerogatif untuk memberkati umat-Nya. 3). Orang yang percaya pada kemurahan Allah tidak semestinya iri hati ketika melihat sesamanya menerima kemurahan Allah. Sebab, keadilan Allah atau kemurahan Allah berbeda dengan kemurahan menurut ukuran manusia. Kita tidak perlu bersungut sungut atau kesal ketika orang lain menerima berkat dari Tuhan. Tuhan mengasihi semua orang. Ia memelihara kehidupan semua orang. Ukuran kasih Allah kepada manusia tidak berdasarkan apa yang diperbuat, melainkan berdasarkan kemurahan kasih Nya. Allah memiliki hak prerogatif menggunakan kewenangan Nya tersebut untuk mengasihi umat berdasarkan hikmat-Nya. Oleh karena itu, senantiasa percaya pada kemurahan hati Allah yang berlaku kepada semua orang, sesuai dengan ukuran hikmat-Nya, bukan ukuran manusia. Tidak perlu saudara bersungut-sungut, kesal/marah, atau iri hati ketika Tuhan memberkati orang lain atau ketika berkat yang kita terima berbeda dengan orang lain. Seta menjalani hidup menghasilkan “buah yang baik”, sebagai ungkapan syukur atas pemeliharaan Tuhan. Ingatlah selalu : “Kasih Tuhan itu, bagi semua orang  !”. AMIEN.

[Khotjang Sinode GKJ -Sep 2026].

Scroll to Top