DARI BUTA MENJADI MELIHAT
(Yohanes 9:5-7 ) Selama Aku di dalam dunia, Akulah terang dunia.”
6 Setelah Ia mengatakan semuanya itu, Ia meludah ke tanah, dan mengaduk ludah-Nya itu dengan tanah, lalu mengoleskannya pada mata orang buta tadi
7 dan berkata kepadanya: “Pergilah, basuhlah dirimu dalam kolam Siloam.” Siloam artinya: “Yang diutus.” Maka pergilah orang itu, ia membasuh dirinya lalu kembali dengan matanya sudah melek.
Salam sejahtera, damai dan kasih dari Tuhan Yesus menyertai saudara sekalian “
Umat Kristen sudah familier dengan kisah penyembuhan orang buta sejak lahir dalam Injil Yohanes 9:1-41, yang dibacakan pada Minggu Prapaskah IV. Bacaan ini, bersama pesan dari Surat Efesus, mengajak kita menyadari “kebutaan” spiritual terhadap lingkungan sekitar dan mendorong sikap peduli yang nyata. Pada “Kisah Penyembuhan” ditunjukkan bahwa Yesus melihat seorang buta sejak lahir. Ia membuat orang buta itu melihat dengan cara membuat lumpur dari ludah-Nya, mengoleskannya pada mata orang itu, lalu menyuruhnya membasuh di kolam Siloam sehingga ia bisa melihat. Kisah ini menunjukkan pemulihan total: dari kegelapan fisik ke terang, melambangkan bagaimana Tuhan membuka mata hati umat-Nya.
Penyembuhan Yesus terhadap orang yang lahir buta merupakan satu dari sekian banyak mukjizat yang dilakukan oleh Yesus. Kisah ini dimulai dari keberadaan seorang manusia yang tidak dapat melihat sejak lahir. Keadaan ini membuatnya hidup dalam kepasrahan. Ia tidak berani menentukan masa depan hidupnya. Semuanya serasa tidak bermakna, sebab hidup yang dijalani hanya sekedar bertahan hidup. Sepertinya ia sudah terbiasa dengan pemberian nama sebagai orang yang “dihukum Allah”. Masyarakat di sekitarnya menuduh bahwa ia atau orang, bahkan mungkin keduanya berdosa. Karena dosa itulah, ia terlahir buta. Para murid Yesus rupanya memiliki pandangan yang sama dengan kebanyakan orang. Jawaban Yesus, “Bukan dia, atau bukan juga orang tuanya” menunjukkan ajakan bagi semua orang agar tidak menghakimi para penyandang disabilitas.
Setelah Ia memberikan wejangan pada murid-murid-Nya, Ia menyatakan mukjizatnya bagi orang yang lahir buta itu. Berpijak dari bacaan Injil Yohanes pada minggu ini, dengan tema “Yesus memberikan penglihatan kepada orang buta”. Tema ini dipakai agar pembaca dapat memahami peran terang di kehidupan sehari-hari. Di dalam terang, semua terlihat. Kita membutuhkan terang itu untuk menerangi kehidupan. Hidup dalam terang berkaitan dengan orientasi, perspektif, dan tujuan hidup. Sebaliknya hidup didalam gelap yang muncul bisa saja : Hanya berorientasi pada diri sendiri, tidak lagi dapat melihat orang lain di sekitarnya, hanya mencari keselamatan sesaat ini atau pasrah dengan keadaan. Dalam kegelapan yang semacam ini, bayangkan ada terang yang muncul, apa yang dirasakan saat melihat ada terang? Di dalam terang, akan dirasakan demikian: Muncul harapan, dapat melihat sekitarnya, menumbuhkan kepercayaan diri untuk melangkah.
Sebagai umat Kristen, kita percaya telah mengalami pemulihan di dalam Kristus, apakah pemulihan menjadi terang yang bercaha bagi hidup kita sehingga kita bisa “melihat” sekitar, muncul kepedulian, dan keberanian untuk mengambil sikap? Mungkin tidak sedikit umat Kristen yang merenungkan untuk membandingkan hidup sebelum dipulihkan dengan sekarang saat ini yang sedang dijalani. Jika itu dilakukan, apa yang didapati? Menjadi orang buta sejak lahir atau menjadi sama dengan orang-orang Farisi? AMIEN. [mpp2026]
Catatan dan Revisi: Yang benar Renungan Warta Gereja hari ini Mgg, 22 Maret 2026 diperuntukan pada Hari Mgg, 15 Maret 2026. Dan sebaliknya, Renungan Warta Gereja hari Mgg, 15 Maret 2026 yang lalu, isi dan tema renungan diperuntukan hari ini Mgg, 22 Maret 2026. Mohon maaf atas terbaliknya penerbitan ini. Terimakasih.