BERANI MENGAMBIL KEPUTUSAN YANG BENAR
Matius 16:13-20
Minggu XIII Masa Biasa (Hijau) – BULAN KEBANGSAAN
Ay.15 Lalu Yesus bertanya kepada mereka: “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?”16 Maka jawab Simon Petrus: “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!”17 Kata Yesus kepadanya: “Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga.
“ Salam Sejahtera, Kasih Karunia Tuhan Yesus bagi saudara sekalain “
Setiap orang selalu diperhadapkan pada pilihan-pilihan hidup. Seseorang harus berani memutuskan sebuah pilihan dengan berbagai konsekuensi atas pilihannya tersebut. Terkadang pilihan harus dibuat karena keadaan yang mendesak. Namun di sisi lain ada juga pilihan yang membutuhkan pertimbangan matang. Setiap situasi selalu menuntut manusia untuk berani mengambil sebuah keputusan. Persoalan benar–salah atau hasil yang baik-buruk kadang menghantui manusia dalam membuat sebuah keputusan. Bayang-bayang ketakutan inilah yang sangat mungkin membuat orang ragu untuk memilih dan takut mengambil sebuah keputusan. Menilai sebuah keputusan itu benar atau salah sering kali berkaitan dengan konteks zaman dan pergumulan yang ada di dalamnya. Bukan hal mudah membuat keputusan yang benar bagi diri sendiri atau untuk kehidupan bersama. Mengandalkan Tuhan, dengan hikmat-Nya, menolong manusia yang rapuh untuk berani membuat keputusan benar. Hal yang tidak kalah penting adalah proses dalam membuat keputusan di mana ada kemerdekaan pendapat yang dihormati. Keputusan yang benar bukan sekedar sebuah rumusan pemikiran, melainkan proses demokrasi yang baik sekaligus juga keberanian untuk bertanggung jawab atas sebuah keputusan.
Matius 16:13-20 memuat percakapan antara Tuhan Yesus dengan murid-muridNya tentang pengakuan iman. Ada hal menarik dari pertanyaan Yesus yang diajukan kepada para murid. Pertama, Yesus bertanya tentang pendapat orang mengenai jati diri Anak Manusia. Kedua, Yesus bertanya tentang pendapat para murid tentang jati diri-Nya. Sepintas kita menganggap bahwa istilah Anak Manusia yang dipakai Yesus disini merujuk pada diri-Nya. Padahal pertanyaan Yesus tentang siapa Anak Manusia mengacu pada pemahaman umum orang Yahudi saat itu. Dalam Perjanjian Lama istilah Anak Manusia sering digunakan untuk menggambarkan umat manusia biasa yang rapuh dan terbatas. Namun dalam Kitab Daniel ada re-interpretasi atas istilah Anak Manusia. Dari sinilah istilah Anak Manusia diidentifikasi sebagai orang-orang kudus milik Allah. Anak Manusia yang diakui oleh orang-orang Yahudi saat itu adalah orang-orang kudus yang dipakai Allah. Pada pertanyaan kedua Yesus meminta pendapat pribadi para murid tentang siapa diri-Nya? Simon Petrus memberi pengakuan bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah yang hidup. Pengakuan Petrus ini merupakan pengakuan yang berani ditengah pandangan mesianik bangsa Yahudi saat itu. Mesias dalam pandangan Yahudi adalah seorang raja (dari keturunan Daud) yang membawa pembebasan dan keselamatan. Ada unsur politis-apokalitis di balik pemahaman ini. Pengakuan Petrus ini tidak bersifat spontan. Melainkan refleksi atas perjumpaan dan relasi yang dekat antara Petrus dengan Yesus. Yesus memuji pengakuan Petrus.
Beriman kepada Kristus adalah proses belajar yang dikerjakan sepanjang hidup. Pengalaman iman setiap orang percaya menjadi sarana untuk terus mengenal dan semakin dekat dengan Kristus. Dari situlah pengakuan iman tentang Yesus yang otentik dilahirkan. Mengikut Kristus dengan meneladani cinta kasih-Nya merupakan keputusan yang berani dan benar. Sebuah keberanian di kala cinta kasih kita wartakan di tengah kehidupan dunia yang penuh kekerasan dan kebencian. Menjadi keputusan yang benar sebab kita mengimani Kristus yang adalah Tuhan dan Juruselamat dunia.AMIEN. [khotjangAgt 2026-Sinode GKJ]