MENELADANKAN KASIH, MEWARISKAN IMAN
( Bulan Keluarga – Mgg ke-4 )
Matius 22 : 34 – 46
ay.37 Jawab Yesus kepadanya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.38 Itulah hukum yang terutama dan yang pertama.39 Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah:Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.40 Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.”
“ Salam sejahtera, Kasih dan Damai Sejahtera Tuhan Yesus untuk seluruh Keluarga “
Keluarga sejak awal dipahami sebagai ruang pertama dan utama di mana iman diperkenalkan, dihidupi, dan diwariskan. Namun dalam realitas kekinian, fungsi ini mengalami pergeseran yang signifikan. Banyak keluarga tidak lagi menjadi tempat utama pembentukan iman, melainkan hanya menjadi ruang tinggal yang bersifat administratif: tempat makan, tidur, dan menjalankan rutinitas. Relasi di dalamnya sering kali kehilangan kedalaman spiritual dan emosional.Salah satu fenomena yang mencolok adalah perubahan cara anak memandang keluarga, khususnya orang tua. Banyak anak saat ini tidak lagi menjadikan orang tua sebagai tempat pertama untuk berbagi pergumulan hidup. Mereka lebih memilih teman sebaya atau bahkan ruang digital yang anonim. Dunia digital menghadirkan ilusi kedekatan, kecepatan respons, dan rasa “dipahami” yang instan, sementara komunikasi dalam keluarga sering terasa lambat, kaku, bahkan menghakimi. Ketika orang tua tidak mampu hadir secara emosional, maka anak akan mencari kehadiran itu di tempat lain.Oleh karena itu, keluarga dipanggil untuk membangun dua warisan yang tidak terpisahkan: Legacyof Faith dan Legacyof Life. Legacyof Faith berbicara tentang nilai iman yang diajarkan, sedangkan Legacyof Life berbicara tentang iman yang dihidupi. Keduanya harus berjalan bersama.
Iman yang tidak diwujudkan dalam kehidupan akan kehilangan daya transformasinya. Tema “Meneladankan Kasih, Mewariskan Iman” menjadi panggilan bagi keluarga masa kini: bahwa masa depan iman sebuah generasi sangat ditentukan oleh kualitas kasih yang mereka alami di dalam keluarga.
Yesus merangkum seluruh hukum Taurat dalam dua perintah: kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama. Ini bukan sekadar ringkasan etis, tetapi pusat teologis dari seluruh kehidupan iman. Kasih kepada Allah tidak dapat dipisahkan dari kasih kepada sesama. Dalam konteks keluarga, ini berarti bahwa spiritualitas tidak dapat dipisahkan dari relasi sehari-hari. Kasih kepada Allah harus terwujud dalam cara anggota keluarga saling memperlakukan. Kasih kepada sesama dimulai dari relasi dalam keluarga. Yesus tidak berbicara tentang kasih sebagai konsep abstrak, tetapi sebagai praktik konkret. Kasih harus:Diwujudkan dalam tindakan, dinyatakan dalam relasi dan dihidupi dalam keseharian. Dalam keluarga masa kini, krisis utama bukanlah kurangnya pengetahuan tentang iman, tetapi kurangnya pengalaman akan kasih, misalnya: kurangnya komunikasi yang hangat dalam keluarga, minimnya empati, dan relasi yang dangkal.Anak-anak tidak hanya membutuhkan penjelasan tentang Tuhan, tetapi pengalaman nyata akan kasih Tuhan melalui orang tua mereka.
Di sinilah pewarisan iman terjadi: bukan melalui ceramah, tetapi melalui kehidupan. Ketika anak melihat kasih yang konsisten, mereka akan mengenal Allah yang adalah kasih. Melalui kasih inilah iman diwariskan. Inilah panggilan setiap keluarga: menjadi tempat di mana kasih Allah nyata dan iman diwariskan dari generasi ke generasi. AMIEN.
=== [Khotjang Sinode GKJ – MHB Okt 2026] ===