RENUNGAN WARTA GEREJA GKJ KLATEN MINGGU, 26 JULI 2026

MEMULAI DARI HAL KECIL

(Matius 13:31-33, 44-52)

31  Yesus membentangkan suatu perumpamaan lain lagi kepada mereka, kata-Nya: “Hal Kerajaan Sorga itu seumpama biji sesawi, yang diambil dan ditaburkan orang di ladangnya.

“ Salam Sejahtera, kasih dan kedamaian dari Tuhan Yesus bagi saudara sekalian “

Saat ini kita memasuki Minggu ke-9 setelah Pentakosta. Bacaan hari ini mengajak kita untuk belajar mengerjakan sesuatu mulai dari sesuatu yang kecil. Hal-hal kecil kerap kali tidak diperhitungkan. Hal-hal kecil kerap kali disepelekan, kita tidak menyadari bahwa hal-hal besar selalu diawali dengan hal kecil. Demikian pula dengan karya dan kebaikan yang perlu kita upayakan, kita perlu memulainya dengan hal-hal kecil. Sesuatu yang besar selalu dimulai dari hal yang kecil. Sebagai contoh, apabila kita melihat rumah yang besar dengan lantai yang bertingkat-tingkat, itu selalu dibangun dari bagian yang paling bawah dan kecil, yakni fondasi. Namun demikian, hal kecil adalah dasar dari sesuatu yang besar. Perenungan kita Minggu ini akan menghantar kita untuk menghadirkan Kerajaan Allah dimulai dengan tindakan kecil yang bisa kita lakukan. Bacaan Injil mengkisahkan bahwa Yesus melanjutkan pengajaran melalui perumpamaan-perumpamaan; kali ini Yesus memakai gambaran biji sesawi. Tanaman sesawi di Palestina adalah sebuah pohon berakar dan berbatang, dan ketinggiannya bisa mencapai 4 meter lebih. Pohon yang besar itu berawal dari biji sesawi yang kecil. Biji sesawi lazim digunakan untuk menjadi gambaran sesuatu yang sangat kecil. Ketika Yesus berkata bahwa Kerajaan Surga yang diumpamakan seperti biji sesawi, maknanya jelas, bahwa Kerajaan Surga bermula dari sesuatu yang kecil. Selanjutnya Yesus memakai gambaran ragi yang diambil seorang perempuan dan diadukkan ke dalam tepung terigu sebanyak empat puluh liter. Dalam tradisi Yahudi sebenarnya ragi dikaitkan dengan sesuatu yang buruk.

Orang Yahudi menghubungkan fermentasisebagai sebuah proses pembusukan. Pembusukan itu terjadi oleh karena ragi. Maka ragi adalah sesuatu yang buruk yang dapat merusak. Itulah sebabnya menjelang Paskah orang Yahudi akan mencari sisa-sisa ragi dan membuangnya dari rumah, lalu membakarnya. Melihat pemahaman dan kenyataan tersebut, sangat mungkin bahwa Yesus secara sengaja memakai ragi dalam perumpamaan tentang Kerajaan Surga, hal ini dilakukan untuk membuat keterkejutan dan menaruh minat pada ajaran Yesus. Pesannya sekali lagi adalah tentang hal kecil yang berdampak besar. Ragi dapat membuat adonan tepung mengembang. Hal kecil dapat mentransformasi dan menghantar pada Kerajaan Surga. Gambaran selanjutnya adalah tentang harta terpendam dan tentang jala di laut. Gambaran ini kembali membawa pada pemahaman bahwa Kerajaan Surga adalah sesuatu yang besar dan berharga. Hal yang harus diupayakan dan tidak datang dengan sendirinya. Dengan melakukan hal-hal kecil dengan cinta yang besar, benih itu akan menjadi Kerajaan Surga yang mentransformasi.

Teka-teki selanjutnya yang menjadi bagian panjang perumpamaan Yesus sejak Matius 13:24-52 adalah Kerajaan Surga. Apa yang dimaksud dengan Kerajaan Surga menurut penulis Injil Matius? Mendengar kata Kerajaan Surga pikiran kita akan langsung berlari kepada sebuah tempat yang ada di sana dan disediakan bagi kita setelah kita mengalami kematian. Pendapat tersebut tidak sepenuhnya salah, namun yang dimaksudkan dalam Injil Matius mengenai Kerajaan Surga tidak hanya demikian. Sejak Matius 6:10 penulis sudah menulis tentang surga yang dimaksud. Bahwa Kerajaan Surga bukan hanya tentang di sana dan nanti, namun juga tentang di sini dan kini. Kerajaan Surga bukan sesuatu yang dinanti di masa akan datang, namun perlu diupayakan di masa kini. Melalui tindakan kecil dan berdampak besar akan menghadirkan Kerajaan Surga di sini dan kini. AMIEN. [Khotjang GKJ Juli 2026]

Scroll to Top