RENUNGAN WARTA GEREJA GKJ KLATEN MINGGU, 27 SEPTEMBER 2026

PERTOBATAN DAN KETAATAN

(BULAN KATEKESE LITURGI)

Matius 21: 23-32

Ay.28   “Tetapi apakah pendapatmu tentang ini: Seorang mempunyai dua anak laki-laki. Ia pergi kepada anak yang sulung dan berkata: Anakku, pergi dan bekerjalah hari ini dalam kebun anggur.29  Jawab anak itu: Baik, bapa. Tetapi ia tidak pergi.30  Lalu orang itu pergi kepada anak yang kedua dan berkata demikian juga. Dan anak itu menjawab: Aku tidak mau. Tetapi kemudian ia menyesal lalu pergi juga.

“ Salam sejahtera, kasih karunia Tuhan Yesus menyertai saudara sekalian “

Kehidupan orang beriman harus ditandai dengan pertobatan dan ketaatan. Dimulai dengan kesadaran bahwa kita adalah manusia yang penuh kelemahan dan keterbatasan, memiliki cidera manusiawi, sehingga selama hidup di dunia ini kita masih sangat mungkin jatuh dalam dosa. Dengan bertobat maka kita akan menerima rahmat pengampunan dan pemulihan dari Tuhan. Namun pertobatan tidak sekadar mengaku dosa dan mengatakan,:“Tuhan ampunilah dosa kami”. Pertobatan tidak hanya ungkapan verbal, namun juga harus diikuti tindakan nyata, yaitu hidup dalam ketaatan kepada kehendak Tuhan. Itulah pertobatan yang sejati, ada kerendahan hati untuk mau mengakui dan menyesali dosanya, dan diikuti dengan ketaatan yang sungguh-sungguh. Diakui atau tidak, ada banyak orang, termasuk orang yang mengaku beriman, namun ketika melakukan pelanggaran atau dosa, tidak sungguh-sungguh bertobat. Orang tersebut merasa seolah-olah tidak bersalah, sehingga dosa terus dilakukan. Atau ada orang yang bertobat, namun pertobatannya semu, hanya sebatas kata-kata. Pertobatan yang tidak disertai ketaatan. Di sisi lain, ada orang yang nampak taat, dengan tekun ke gereja dan mengikuti berbagai kegiatan gereja lainnya, sangat ketat terhadap aturan gereja. Sayangnya, semua dilakukan hanya untuk mendapatkan pujian. Ia taat namun tidak rendah hati. Pertobatan yang sejati adalah pertobatan yang lahir dari hati, penuh kesadaran dan kerendahan hati. Pertobatan yang sejati juga harus dikuti dengan ketaatan yang penuh dengan kerendahan hati, serta ketaatan yang dilakukan dengan penuh syukur atas kasih karunia Tuhan, sehingga akan mendatangkan sukacita dalam hidup, bukan beban.

Dikisahkan dalam perikop ini bahwa saat Yesus sedang mengajar di Bait Allah, datanglah imam-imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi. Mereka ini tokoh yang keberadaannya tidak bisa diremehkan begitu saja. Jabatan sebagai pemimpin agama umat Yahudi melekat dalam diri mereka. Sayangnya, hal itu justru membuat mereka menjadi arogan. Salah satu simbol arogansi mereka adalah dijejalkannya pelbagai aturan agamawi yang detail/rinci, sebagai turunan dari Dasa Titah, yang menekan dan melelahkan batin umat. Ironisnya, berbagai aturan tersebut malah menjauh dari inti utama hukum Allah yakni mengasihi Tuhan dan sesama. Hal itulah yang membuat mereka menolak kehadiran Yohanes Pembaptis, bahkan menolak Yesus sendiri. Mata hati mereka telah dibutakan oleh kesombongan diri, sehingga merasa tidak membutuhkan keselamatan dari Allah. Dalam percakapan dengan Tuhan Yesus, mereka mengajukan pertanyaan tentang kuasa Yesus. Pertanyaan tersebut sebenarnya adalah ekspresi kegelisahan, gugatan sekaligus jebakan mereka untuk menjatuhkan pamor Yesus. Namun dengan cerdik, Yesus balik bertanya tentang asal muasal baptisan Yohanes Pembaptis: “dari sorga atau dari manusia?” Mereka pun gagal memperdaya Yesus! (ay, 25-27). Sebaliknya, pertanyaan Yesus tersebut seperti pukulan telak atas keangkuhan mereka untuk mengakui, mempercayai dan menerima pelayanan Yohanes Pembaptis sebagai utusan ilahi. Selanjutnya, Yesus pun menegur mereka dengan kisah perumpamaan seorang bapak yang mempunyai dua anak laki-laki (Matius 21:23-32). Kedua anak itu dimintanya untuk bekerja di kebun anggur. Anak pertama menyatakan kesediaannya dengan menjawab, “Ya” atas permintaan bapaknya ini. Sedangkan sang adik dengan tegas mengatakan, “Tidak!” Namun, apa yang terjadi kemudian? Jawaban “Ya” dari anak yang pertama ternyata dalam praktiknya tidak dikerjakan. Ia tidak pergi ke kebun anggur ayahnya itu. Sedangkan anak kedua yang awalnya menolak, kemudian menyesal dan melakukan perintah ayahnya. Imam-imam kepala yang berdebat dengan Yesus adalah representasi dari anak pertama dalam cerita perumpamaan itu. Mereka mendengar peringatan Yohanes Pembaptis yang menyerukan pertobatan, tetapi tidak merespon dengan baik. Jangankan berubah pikiran, mereka malah memusuhi dan sibuk mencari alasan untuk menyingkirkan baik Yohanes Pembaptis maupun Yesus. Sedangkan anak kedua yang awalnya menolak tetapi kemudian menyesal dan melakukan perintah melambangkan pemungut cukai dan perempuan sundal yang menerima amanat Yohanes dan bertobat.

Pesan utama dari Matius 21:23-32 adalah bahwa ketaatan yang sebenarnya tidak hanya terletak pada kata-kata, tetapi pada tindakan nyata. Pemungut cukai dan perempuan sundal yang dianggap sebagai orang-orang berdosa dapat mendahului para pemimpin agama masuk ke dalam Kerajaan Allah jika mereka bertobat dan melakukan kehendak Tuhan. Bagian ini juga menekankan pentingnya iman yang nyata dan ketaatan kepada Tuhan, bukan hanya pengakuan verbal seperti yang dilakukan oleh para pemimpin agama Yahudi. Mereka terlihat taat, namun hatinya penuh keangkuhan. Ketaatan mereka pun sekadar untuk mencari popularitas. Belajar dari pengajaran Yesus mendorong umat untuk hidup dalam pertobatan sejati yang diikuti dengan ketaatan dan sikap rendah hati. Dengan kata lain, pertobatan sejati diikuti dengan ketaatan. Matius 21:23-32 menunjukkan sikap para pemimpin agama Yahudi yang justru tidak hidup dalam pertobatan yang sejati dan ketaatan yang sungguh-sungguh. Ketaatan para pemimpin agama Yahudi kontras dengan ketaatan Yesus. Ketaatan para pemimpin agama Yahudi adalah ketaatan yang penuh kesombongan, sepertinya taat namun menolak kasih karunia Allah. Sedangkan ketaatan Yesus adalah ketaatan yang rendah hati. Ia mengosongkan diri dan taat sampai mati di kayu salib. AMIEN . [Khotjang Sinode GKJ – Sep 2026].

Scroll to Top