RENUNGAN WARTA GEREJA GKJ KLATEN MINGGU, 30 AGUSTUS 2026

MENINGGALKAN ZONA NYAMAN UNTUK MELAYANI BANGSA

Matius 16: 21-28

(Bulan Katekese Liturgis)

24 Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.25  Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.

“ Salam sejahtera, kasih Bapa, Putera dan Roh Kudus bagi saudara sekalian “

Zona nyaman adalah kondisi di mana kita merasa aman dan tidak ada tantangan. Dalam kehidupan ini, banyak orang mencari zona nyaman karena merasa lebih aman dan stabil. Mereka merasa bahwa zona nyaman dapat memberikan kesempatan untuk beristirahat dan tidak menghadapi tekanan atau stres yang berlebihan. Namun beberapa orang ada yang merasa bahwa zona nyaman akan membuat mereka menjadi stagnan/terhenti dan tidak berkembang. Bagi mereka ini zona nyaman membuat hidup kurang tantangan, padahal tantangan bisa menjadi kesempatan untuk tumbuh, maju dan berkembang. Orang yang seperti ini lalu mau atau bahkan berani meninggalkan zona nyaman mereka. Apakah kehidupan sebagai pengikut Kristus juga demikian? Tentu tidak! Mengikut Yesus Sang Juruselamat haruslah mau meninggalkan zona nyaman menuju zona iman. Iman kepada Yesus Sang Juruselamat tidak selalu membawa kita pada jalan hidup yang aman dan tanpa tantangan. Bahkan Yesus sendiri menegaskan bahwa menjadi pengikut Kristus harus mau menyangkal diri, memikul salibnya dan mengikut kehendak Allah. Dalam zona iman inilah, kehidupan orang percaya akan menjadi bermakna, bukan hanya untuk diri sendiri namun juga untuk Tuhan dan sesama.

Mengikut Yesus berarti harus mau meninggalkan zona nyaman. Di ayat 21 disebutkan bahwa : “Sejak waktu itu Yesus mulai menyatakan kepada murid-muridNya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga.” Itulah misi yang harus diemban Yesus, dalam menyelamatkan dunia, Ia harus melewati via dolorosa, jalan penderitaan. Bukan hal yang mudah, namun Yesus tidak mundur atau surut karena hal itu. Tetapi bagaimana dengan para murid-Nya? Bagi para murid, secara khusus bagi Petrus, sikap Yesus yang demikian itu sungguh mengejutkan. Mereka percaya bahwa Tuhan Yesus adalah Mesias, tepatnya Mesias yang mereka harapkan adalah seorang pembebas dan penakluk yang memiliki kuasa politik dan militer yang hebat sehingga kuasa penjajahan dari bangsa Roma dapat dipatahkan. Itu sebabnya, Yesus dengan keras menghardik Petrus: “Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku!” Dalam hal ini, Yesus tidak ingin Petrus menjadi lawan Allah yang menentang pikiran Allah. Pikiran Allah adalah menyelamatkan dunia dengan jalan membiarkan Anak-Nya yang Tunggal mati disalib dan bangkit setelah hari ketiga. Sedangkan pikiran Petrus (manusia) adalah kalau bisa hidup mulia dan senang, dipuja orang dan jauhi penderitaan. Petrus menjadi representasi seorang pencari dan pemuja zona nyaman. Ada tiga hal yang harus kita lakukan sebagai pengikut Yesus. Yang Pertama: Menyangkal diri, yaitu melepaskan diri dari ikatan-ikatan hidup yang berpusat pada diri sendiri, yaitu keinginan diri sendiri/keinginan daging, agar dapat berjalan mengikuti Dia, menuruti kehendak-Nya. Yang Kedua: Memikul salib, yaitu berani menanggung resiko di dalam kita mengikut Yesus, entah itu penderitaan, tantangan, penolakan, kesulitan, dlsb. Tetapi tidak semua penderitaan itu bagian dari memikul salib. Kalau kita menderita karena ulah kita sendiri, karena kesalahan/kejahatan/ ketidaktaatan kita, itu bukan memikul salib. Sebaliknya kalau kita menderita, karena kita bertahan hidup di jalan Tuhan, kita bertahan taat pada kehendak-Nya, itu memikul salib. Nah, Petrus dan yang lainnya, ingin Yesus menjadi raja tanpa salib. Siap menerima kemuliaan tanpa penghambatan, hanya sebagian dari gambaran Yesus yang dilihatnya. Yang Ketiga: Mengikuti Dia. Artinya, setiap saat taat akan kehendakNya.

Karena itu Jemaat mesti berani di dalam mengikut Kristus meninggalkan zona nyaman, lalu memasuki zona iman.Sebab hidup orang beriman tidak lepas dari tantangan, kesulitan, godaan dan berbagai pergumulan. Hiup tidak selalu lurus dan mulus. Dalam zona iman itu maka kita harus berani menyangkal diri, memikul salib dan mengikut Dia. Dengan demikian kita setia mengikut Yesus. Kesetiaan mengikut Yesus itulah yang menjadi dorongan bagi setiap orang percaya untuk berani meninggalkan zona nyaman dalam melayani bangsa. Dengan demikian keberadaan dan karya pelayanan para pengikut Kristus di tengah bangsa Indonesia ini akan memberikan kontribusi yang positif dan teladan yang baik dalam kehidupan bersama.Tinggalakan zona aman…hiduplah dengan zona Iman kepada Kristus, untuk lebih dapat melayani Bangsa, Nega, dan sesama kita. AMIEN. [Khotjang Sinode GKJ – Agt 2026].

Scroll to Top