KASIH YANG MENGAMPUNI
(Lukas 6:37 ) “Janganlah kamu menghakimi, maka kamu pun tidak akan dihakimi. Dan janganlah kamu menghukum, maka kamu pun tidak akan dihukum; ampunilah dan kamu akan diampuni.
“Salam sejahtera di dalam Nama Tuhan Yesus bagi saudara sekalian “
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering dihadapkan pada situasi yang menguji hati—disakiti, dikhianati, atau diperlakukan tidak adil. Naluri manusia cenderung membalas atau menjaga jarak, tetapi Yesus mengajarkan sesuatu yang berbeda: “Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu” (Lukas 6:27). Ini bukan sekadar teori moral, melainkan panggilan bagi setiap murid Kristus untuk hidup dalam kasih yang melampaui batas, kasih yang tidak hanya diberikan kepada mereka yang menyenangkan hati, tetapi juga kepada mereka yang menyakiti. Dalam Efesus 4:32, Paulus mengingatkan, “Hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.”
Salah satu contoh nyata pengampunan datang dari kisah Corrie ten Boom, seorang wanita Kristen Belanda yang selamat dari kamp konsentrasi Nazi. Bertahun-tahun setelah perang, ia bertemu dengan mantan penjaga kamp yang telah menyiksanya. Pria itu telah bertobat dan meminta maaf. Meski awalnya berat, Corrie akhirnya menjabat tangannya dan berkata, “Aku mengampunimu, saudaraku, dengan kasih Yesus.” Sikap ini menggambarkan bahwa pengampunan bukanlah soal perasaan, tetapi keputusan iman yang membawa kebebasan. Yesus sendiri, dalam penderitaan di kayu salib, tetap berkata, “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Lukas 23:34).
Kasih yang mengampuni bukan berarti mengabaikan keadilan, tetapi memberi ruang bagi anugerah Allah bekerja. Dengan mengampuni, kita membebaskan diri dari belenggu kepahitan dan memberi kesempatan bagi kasih Tuhan untuk menyembuhkan relasi yang retak. Sebagaimana Tuhan telah mengampuni kita tanpa syarat, kita pun dipanggil untuk mengampuni sesama. Mari kita hidup dalam kasih yang memulihkan, karena “Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih” (1 Yohanes 4:8).
A M I E N.