RENUNGAN WARTA GEREJA GKJ KLATEN MINGGU, 30 MARET 2025

MENERIMA SEBAGAI KAWAN

( Lukas 15: 20-21)  Maka bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia. 21  Kata anak itu kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa.”

“ Salam damai sejahtera dari Tuhan Yesus Kristus bagi saudara sekalian “

              Hati seorang ayah selalu penuh kasih, meski anaknya pernah melukai hatinya. Dalam perumpamaan Yesus tentang anak yang hilang, kita melihat betapa sang ayah tidak hanya menunggu, tetapi berlari menyambut anaknya yang pulang dengan penyesalan. Ia tidak menegur dengan amarah, tidak menghakimi, tetapi memeluknya dengan penuh sukacita. Sikap ini mengajarkan kita tentang kasih Allah yang tidak bersyarat. Begitu pula dalam relasi kita dengan sesama, apakah kita sanggup menerima kembali mereka yang pernah mengecewakan kita, sebagaimana Allah menerima kita? (Efesus 4:32)  Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.

              Tidak jarang dalam kehidupan, relasi kita dengan saudara, sahabat, bahkan sesama jemaat gereja, menjadi retak karena kesalahan atau pelanggaran. Namun, apakah kita akan terus menyimpan luka ataukah memilih jalan pemulihan? Sang ayah dalam perumpamaan itu tidak hanya memaafkan, tetapi juga memulihkan martabat anaknya dengan mengenakan jubah terbaik, cincin, dan sepatu (Lukas 15:22). Ini bukan hanya tanda penerimaan, tetapi juga pemulihan hubungan. Yesus pun mengajarkan, “Aku tidak menyebut kamu lagi hamba… tetapi Aku menyebut kamu sahabat” (Yohanes 15:15). Pengampunan sejati tidak hanya menghapus kesalahan, tetapi juga memulihkan kembali hubungan yang rusak. Saudara terkasih, di Minggu Pra-Paskah ke-empat ini, marilah kita merenungkan: Adakah orang yang perlu kita terima kembali dalam hidup kita? Adakah hati yang masih enggan memaafkan dan merangkul? Tuhan Yesus telah menerima kita bukan sebagai hamba yang tak berharga, melainkan sebagai sahabat-Nya. Maka, marilah kita meneladani-Nya, membuka hati, dan merangkul mereka yang telah tersesat, bukan dengan penghakiman, tetapi dengan kasih yang memulihkan. Sebab dalam kasih itulah, kita menemukan makna sejati dari karya penebusan Kristus.  Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong…. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain.” ( 1 Korintus 13:4,5b).

A m i e n.