RENUNGAN WARTA GEREJA GKJ KLATEN MINGGU, 01 FEBRUARI 2026

GEREJA SEBAGAI PEWARTA PENGHARAPAN

(Memperingati 76 Tahun YAKKUM Sebagai Lembaga Misi Gerejawi)

11  Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. 12  Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu.”

Matius 5:11-12

“Salam sejahtera, damai dan kasih Tuhan Yesus ada pada saudara sekalian“

Dalam rangka peringatan 76 tahun berdirinya Yayasan Kristen untuk Kesehatan Umum (YAKKUM) sebagai lembaga misi gerejawi yang dibidani oleh Sinode GKJ dan GKI SW Jateng, jemaat diajak untuk menghayati esensi misi yang melembaga melalui gereja. Hal itu berakar pada spirit dasar yang disemai sejak akhir Abad XIX, bahwa pewartaan Kabar Baik (Injil) merupakan tugas panggilan utama bagi gereja yang membentang dalam sejarah. Sejak adanya pelayanan kesehatan sebagai salah satu cara yang dilakukan gereja kepada masyarakat yang dimulai di Jawa, sepanjang itu pula perjalanan penghayatan akar misi pengabaran Kabar Baik yang berkembang, terus dirawat gereja sampai saat ini. Oleh sebab itu, gereja dan jemaat diajak untuk menguatkan kembali kesadaran dan peran untuk terlibat dalam mewartakan Kabar Baik, dengan optimisme mewujudkan pengharapan dalam kasih Allah. Karena hal itu masih relevan bagi gereja hari ini, di mana upaya untuk mewartakan kasih Allah harus selalu dilakukan dalam setiap konteks, terlebih dalam krisis. 

“Ucapan Bahagia” sebagai tajuk di perikop Matius 5:1-12 ini merupakan bagian dari pengajaran utama Yesus ketika mulai berinteraksi dengan masyarakat di Galilea. Adapun  yang menarik adalah kata “berbahagialah” dapat bermakna sebagai penghiburan, bahwa kondisi-kondisi yang demikian tidak selalu harus dimaknai secara negatif dan pesimistis. Melainkan justru pendorong bagi alternatif sikap yang mencerminkan rasa syukur.

Sebab, dengan sikap demikian, pesan tentang datangnya kerajaan Allah menunjukkan peluang serta pengharapan akan perubahan kondisi kehidupan sekalipun dalam krisis. Dengan kata lain, melalui kabar bahagia, pesan datangnya kerajaan Allah dalam Injil dapat dirangkum dalam peluang dan pengharapan tentang perubahan kondisi. Berpijak dari keterbatasan mereka yang mengalami penderitaan, ada peluang perubahan keadaannya yang bersumber dari kuasa Allah. Hal itu dapat dihayati manakala memberi ruang pada alternatif sikap untuk “berbahagia” atau dengan rasa syukur menyambut kedatangan Kerajaan Allah yang memungkinkan suatu perubahan. Dengan pengharapan itu, maka ada optimisme bilamana Allah berkuasa, karena dengan kesadaran itu setiap keadaan dapat dilampaui dan hal-hal buruk yang terjadi dipercaya dapat diubah dengan memberi ruang pada kehendakNya. Di sinilah ungkapan: “haus dan lapar akan kebenaran”, “murah hati”, “suci hati” dan “membawa damai” sebagai sikap yang diperlukan dalam krisis, sebab hal itu mencerminkan upaya untuk memahami kehendak Allah (ay. 6-9). AMIEN. [sp].