RENUNGAN WARTA GEREJA GKJ KLATEN MINGGU, 11 JANUARI 2026

DARI SUNGAI YORDAN KE DUNIA YANG GENTAR

(Minggu Pembaptisan Yesus )

(Matius 3:13) 16  Sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air dan pada waktu itu juga langit terbuka dan Ia melihat Roh Allah seperti burung merpati turun ke atas-Nya, 17  lalu terdengarlah suara dari sorga yang mengatakan: “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.”

“ Salam sejahtera, damai di bumi bagi sertiap orang percaya “

Natal berbicara tentang Allah yang melawat dunia dalam rupa manusia. Lawatan Allah bukan sekadar kunjungan kasih, namun adalah intervensi ilahi dalam sejarah manusia yang penuh ketakutan. Manusia takut akan masa depan, takut kehilangan, takut ketidakadilan, takut perang, takut ditinggalkan. Kelahiran Kristus adalah awal dari lawatan yang puncaknya terjadi di salib, di mana Yesus menanggung segala ketakutan manusia, termasuk ketakutan paling dalam yaitu ditinggalkan Allah. Namun sebelum salib, ada sungai Yordan. Baptisan Yesus bukan hanya tanda awal pelayanan-Nya, namun juga pengumuman publik dari surga bahwa Allah hadir dan bekerja. Baptisan ini adalah momen ilahi yang mengonfirmasi: “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan”. Dalam Kristus, Allah melawat dan mengusir ketakutan dengan kasih dan kuasa-Nya.

Matius 3:13–17 mencatat peristiwa pembaptisan Yesus oleh Yohanes Pembaptis di Sungai Yordan. Ini adalah momen penting yang menandai permulaan pelayanan Yesus di tengah publik. Dalam konteks Injil Matius, pembaptisan ini terjadi setelah pengantar mengenai kelahiran-Nya (pasal 1–2), dan setelah Yohanes Pembaptis tampil di padang gurun memberitakan pertobatan (Matius 3:1–12). Mengapa dibaptis? Kala itu, baptisan adalah tanda pembasuhan sebagaimana yang dijalani oleh para imam untuk memulai pelayanannya. Imam bertugas mewakili kaum Israel di hadapan Tuhan (Kel. 29:4, Im. 8:24). Baptisan Yesus juga menjadi cara Yesus mengidentikkan diri-Nya dengan orang-orang yang akan ditebus dan diselamatkan-Nya.

Dalam karya-Nya sebagai manusia, Ia disamakan dengan semua manusia dalam segala hal, hanya Dia tidak berdosa. Pembaptisan Yesus bukanlah karena Ia berdosa, melainkan sebagai tindakan identifikasi dengan umat yang berdosa dan sebagai pemenuhan rencana Allah. Tuhan Yesus berkata: “…demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah“(ay. 15). Matius 3:13-17 ditempatkan setelah kisah Yohanes Pembaptis tampil menyerukan pertobatan. Ia menubuatkan tentang Dia yang lebih besar dari padanya sebagai sosok yang akan membaptis dengan Roh Kudus dan api  (Matius 3:1–12). Penulis menempatkan kisah ini di awal pelayanan Yesus untuk menunjukkan bahwa Yesus diurapi oleh Roh dan diakui oleh Allah sebagai Anak-Nya. Terbukanya langit menjadi simbol yang menunjuk bahwa takhta suci Allah dinyatakan. “Roh Allah turun seperti burung merpati” menunjukkan pengurapan dan kehadiran Roh yang menyertai Yesus (bdk. Yes. 42:1). Kisah ini ditutup dengan perkataan suara dari langit yang mengatakan “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan”. Pembaptisan Yesus adalah pernyataan identitas ilahi Yesus dan kerelaan Allah terhadap misi-Nya. Peristiwa ini menggemakan nubuat dalam Yesaya 42:1 dan Mazmur 2:7. Allah Bapa tidak ingin manusia salah mengenal Anak-Nya. Dia ingin Anak-Nya dimuliakan. AMIEN.