HANYA KRISTUS HARAPANKU!
(Matius 1: 20,21) 1:20 Tetapi ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan nampak kepadanya dalam mimpi dan berkata: “Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus. 1:21 Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka.”
“ Salam sejahtera, kasih Tuhan Yesus menyertai saudara sekalain “
Kita tentu pernah mengalami krisis dalam kehidupan. Sakit yang tak kunjung sembuh. Lelah mental karena tekanan pekerjaan. Surut harapan karena tak kunjung mendapatkan pekerjaan. Menjadi korban pemutusan hubungan kerja. Bisnis yang sedang lesu. Kondisi ekonomi keluarga yang sangat terbatas. Menjadi korban bencana alam dan berbagai krisis hidup lainnya. Sangat wajar dan manusiawi jika kita mencari pertolongan ke sana ke mari karena krisis yang dialami kerap memicu rasa cemas dan panik. Terlebih lagi, kita tidak memiliki kemampuan untuk melihat secara pasti seperti apa masa depan yang akan kita hadapi — semuanya masih berupa teka-teki yang samar.
Keterbatasan itu mengingatkan kita bahwa kita adalah manusia yang rapuh. Namun, di tengah segala kerapuhan itu, Allah yang melampaui kita kini hadir bersama kita. Ia menyertai kita bukan dengan memberikan solusi instan atas persoalan hidup, atau dengan membalikkan penderitaan menjadi kemudahan. Ia beserta kita dengan cara yang paling mendalam: menjadi manusia sejati seperti kita. Maka, dalam segala keterbatasan, seharusnya kita menyadari bahwa kita tidak sendirian. Di dalam krisis terdapat perjumpaan dengan Kristus, bahwa bersama Kristus, selalu ada kekuatan, betapa pun berat jalan yang kita tempuh.
Minggu Adven keempat mengingatkan kita; pertama, hidup tak terhindarkan dari krisis, dan mudah membuat kita takut. Namun kita tidak pernah sendiri, Allah beserta kita. Janji Imanuel digenapi dalam kelahiran Yesus Kristus, yang membawa pengharapan, kekuatan, dan damai sejahtera di tengah ketidakpastian.
Kedua, Natal adalah tanda pengharapan baru dan undangan untuk membuka diri pada karya Allah. Namun, siapkah kita menyambutnya? Ahas menolak tanda, Yusuf pun sempat bergumul. Tetapi di tengah kebingungan, Yusuf memilih percaya dan taat. Demikian juga kita diajak seperti Yusuf, menyambut kelahiran Kristus dengan hati terbuka, sebab di dalam-Nya ada harapan yang sejati. AMIEN.