BERJUMPA DENGAN ALLAH DALAM KETAKUTAN KITA
( Matius 2:22-23) 22 Tetapi setelah didengarnya, bahwa Arkhelaus menjadi raja di Yudea menggantikan Herodes, ayahnya, ia takut ke sana. Karena dinasihati dalam mimpi, pergilah Yusuf ke daerah Galilea. 23 Setibanya di sana iapun tinggal di sebuah kota yang bernama Nazaret. Hal itu terjadi supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi-nabi, bahwa Ia akan disebut: Orang Nazaret.
“ SELAMAT NATAL & MENYONGSONG TAHUN BARU….
Damai sejahtera dari Tuhan Yesus Kristus menyertai saudara seklian “
Pada Minggu pertama setelah natal, kita diingatkan bahwa ketakutan itu masih saja menghampiri kita meskipun kita sudah berusaha untuk menghindarinya. Untuk itulah kita belajar merespons dengan tepat. Dengan merespons secara tepat, ketakutan tidak melumpuhkan manusia, namun justru membawa umat mengerti bahwa Allah sedang mendekat dan mendekap kita dengan kasih-Nya.
Henry Manampiring dengan mengutip gagasan Stoisisme menuliskan pada buku berjudul “Filosofi Teras” menyatakan bahwa semua peristiwa yang terjadi dalam kehidupan manusia sesungguhnya bersifat netral. Respons kitalah yang menyebabkan peristiwa tersebut berdampak baik atau buruk. Dengan cara berpikir ini, kita diajak untuk memandang dan merespons ketakutan dengan cara yang tepat, sehingga ketakutan tersebut tidak membuat kita kehilangan kendali. Dengan demikian pemaknaan atas ketakutan secara tepat menjadikan kita semakin karib dengan Tuhan, terbuka kepada-Nya dan semakin mengerti arah hidup kita sesuai dengan kehendak-Nya.
Pemberitaan firman pada minggu ini mengundang kita berjumpa dengan Allah dalam ketakutan kita. Dalam perjumpaan itu, kita akan merasakan pertolongan Allah dan ujung akhirnya mendorong kita untuk bersyukur kepada-Nya. Kitab Injil Matius 2:22, mengisahkan Yusuf yang merasakan situasi hidup yang menegangkan.
Ketika mengetahui Arkhelaus menggantikan Herodes, bayangan masa lalu yang begitu mencekam kembali hadir di pikirannya. Peristiwa pembunuhan anak-anak berumur dua tahun ke bawah yang dilakukan atas perintah Herodes rupanya menjadi pengalaman traumatis. Agaknya Yusuf mendapatkan informasi bahwa Arkhelaus tidak kalah kejam dengan ayahnya. Ia merasa terancam dan begitu kuatir akan masa depan keluarganya jika terus menetap di Israel. Ayat 21 menunjukkan bahwa Yusuf memang dengan taat pergi ke Israel sesuai petunjuk Malaikat. Namun sebelum menetap lebih lama, ia mendapat informasi tentang kekejaman Arkhelaus pengganti Herodes itu sehingga ketakutan menghinggapinya. Menarik untuk kita ketahui bahwa ketakutan tersebut bukanlah akhir kisah hidup Yusuf. Ketakutan yang dirasakan justru mendorong Yusuf untuk membuka diri dan mencari kehendak Tuhan. Nyata bahwa dalam situasi ketakutan, Yusuf tidak mengambil keputusan dengan sembarangan melainkan dengan tekun menanti petunjuk Tuhan. Tuhan pun berkenan memakai ketakutan tersebut untuk memandu langkah hidup Yusuf tahap demi tahap. Demikianlah melalui mimpi yang diterima, Yusuf beranjak dari Israel menuju daerah Galilea, tepatnya di kota Nazareth. Hal ini terjadi supaya genaplah nubuat para Nabi, bahwa Tuhan Yesus disebut “Orang Nazareth”. Atas perkenan Tuhan, ketakutan Yusuf menjadi salah satu sarana terwujudnya rencana Tuhan yang mulia. AMIEN.