PERCAYA DENGAN TIDAK GENTAR
(Bulan Kespel Minggu-IV)
(Matius 10:28) Dan janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka.
“ Salam sejahtera, Kasih dan Berkat dari Tuhan Yesus ada pada saudara sekalian “
Menjadi percaya adalah sebuah proses. Demikian pula, mempertahankan kepercayaan juga memerlukan perjuangan. Ada banyak faktor yang mempengaruhi seseorang kehilangan rasa percaya, baik kepercayaan pada diri sendiri maupun kepercayaan pada orang lain. Seringkali yang membuat seseorang sulit untuk percaya adalah interpretasinya sendiri terhadap peristiwa yang sedang dialami. Ketika ia menempelkan interpretasi yang buruk terhadap dirinya atau terhadap suatu peristiwa, maka itu pula yang cenderung ia yakini. Karena itu, memiliki keyakinan yang positif sangat diperlukan untuk menjaga konsistensi dalam melaksanakan tugas panggilan kita. Keyakinan kepada Tuhan Sang Pencipta, Sang Pengutus, dan Sang Penolong yang selalu menyertai umatnya sangat diperlukan agar kita dapat menuntaskan perjuangan hidup yang kita jalani.
Bagian bacaan Injil ini merupakan bagian ketika Yesus mengutus kedua belas murid-Nya. Dalam bagian ayat-ayat ini, Yesus menjelaskan bahwa pengikut Yesus, mau tidak mau harus siap mengalami penderitaan. Jika Yesus mengalami penolakan dan aniaya, maka sebagai murid, mereka juga akan mengalaminya. Dengan perkataan ini, Yesus hendak menyiapkan mental para murid untuk menghadapi berbagai macam tantangan atau kesulitan di masa yang akan datang. Yesus tidak hanya memberitahukan kesusahan yang akan dihadapi, tetapi Yesus juga memberikan kekuatan dan penghiburan kepada para murid. Mereka diminta untuk melakukan tugas perutusan dengan percaya penuh pada pemeliharaan Tuhan.
Mereka tidak perlu takut. Yesus mendorong para murid untuk gigih dan tidak gentar menghadapi berbagai hambatan. Semua hambatan dan kesulitan itu adalah salib yang harus dipikul oleh para murid, sebagai pengikut Yesus. Mereka tidak akan menanggung salib itu sendirian, tetapi Tuhan akan menyertai mereka. Ketika seseorang menghadapi kesulitan atau hambatan, sangat mungkin ia menjadi gentar, yaitu perasaan takut, ragu, dan gelisah. Seringkali perasaan ini muncul, justru karena interpretasinya sendiri terhadap peristiwa yang sedang dihadapi. Khotbah di minggu setelah Pentakosta ini hendak mengarahkan umat untuk memiliki keyakinan yang teguh pada cinta kasih dan penyertaan Tuhan sebagaimana dijanjikan Tuhan pada hari Pentakosta. Keyakinan ini kiranya dapat menjadi kekuatan bagi umat untuk melakukan tugas perutusannya. Dengan demikian, umat memiliki interpretasi yang tepat sesuai dengan firman Tuhan, sehingga umat dapat pulih dari ketidakpercayaannya dan dapat menjalani hidup keseharian dengan berpengharapan. AMIEN. [Khotjang-Jun 2026]