LEMBAGA KRISTEN SEBAGAI PEWARTA BELAS KASIH
(Bulan Kesaksian & Pelayanan)
Matius 9:35-10:836
36 Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala.37 Maka kata-Nya kepada murid-murid-Nya: “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit.
“ Salam sejahtera Kasih Tuhan Yesus Kristus menyertai saudara sekalian “
Dalam melakukan tugas panggilan sebagai gereja, Sinode GKJ membentuk berbagai lembaga yang bergerak di beberapa bidang, di antaranya bidang pendidikan, kesehatan dan pembinaan. Lembaga-lembaga tersebut didirikan sebagai sarana bagi Sinode GKJ menjangkau pelayanan ke berbagai bidangseperti: Universitas Kristen Duta Wacana, Universitas Kristen Satya Wacana, Sekolah Tinggi Agama Kristen (STAK) Marturia dan Solotech, Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi (STFT) Jakarta serta juga ada LP3S (Lembaga Perencanaan dan Pembinaan Pendidikan Sinode). Di bidang kesehatan ada YAKKUM yang menaungi beberapa rumah sakit Kristen. Sedangkan untuk keperluan pembinaan dan pengaderan ada LPPS (Lembaga Pembinaan dan Pengaderan Sinode) di Yogyakarta dan masih ada lembaga-lembaga lainnya. Tugas panggilan untuk hadir dan melayani sesama tidak hanya menjadi tugas lembaga-lembaga milik Sinode GKJ, namun juga gereja-gereja yang ada di lingkungan Sinode GKJ. Setiap pelayanan yang ada harus dilakukan berdasarkan pada belas kasih, seperti halnya yang dilakukan oleh Yesus
Injil Matius menceritakan banyak kisah mengenai penyembuhan yang dilakukan oleh Yesus. Pada ayat 35 kisah dimulai dengan menceritakan bahwa Yesus melakukan tiga hal dalam pelayanan Nya yakni mengajar, memberitakan Injil dan menyembuhkan orang orang dari segala penyakit dan kelemahan. Injil Matius menjelaskan alasan semua tindakan Yesus, yakni: “tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan.” Kata tersebut berasal dari bahasa Yunani (esplanchnisthē) yang dapat berarti ‘merasa belas kasihan’, ‘merasa iba’, atau ‘tergerak’. Kata ini menerangkan hati nurani manusia yang terdalam. Jika kita meneliti dalam Kitab Perjanjian Baru, kata tersebut beberapa kali dipakai oleh Yesus sebagai subjeknya (Mat 9:36; 14:14; 15:32; 20:34; Mrk 1:41, Luk 7:13). Kata tersebut menunjuk pada inisiatif dari dalam/hati nurani pada saat melihat kondisi di sekitarnya. Jadi belas kasih Yesus bukan datang karena semata-mata permintaan dari luar, namun muncul dari dalam diri Yesus sendiri. Sebagai pribadi yang berbelas kasih. Pada bagian selanjutnya, Yesus memanggil kedua belas rasul dan mengutus mereka untuk mengusir roh jahat dan menyembuhkan segala penyakit dan kelemahan. Pekerjaan kepedulian kepada kelemahan manusia adalah pekerjaan yang besar. Yesus tidak melakukannya sendirian, namun Ia memanggil para murid untuk turut serta dalam panggilan yang sama. Minggu ke-3 setelah peristiwa Pencurahan Roh Kudus, mengandung perutusan kepada orang percayauntuk melanjutkan karya pelayanan dengan dasar belas kasih Tuhan bagi manusia. Mari melayani dan meneladani karya Yesus melayani dengan belas kasih yang tulus. Teresa menulis demikian:“Tidak semua dari kita bisa melakukan hal-hal besar. Tetapi kita bisa melakukan hal hal kecil dengan cinta yang besar.”AMIEN.[Khotjang GKJ Juni 2026].