RENUNGAN WARTA GEREJA GKJ KLATEN MINGGU, 05 APRIL 2026

KEBANGKITAN KRISTUS MEMBARUI CIPTAAN

( Peringatan Hari Kebangkitan Yesus – Paskah )

Matius 28:1-10

5  Akan tetapi malaikat itu berkata kepada perempuan-perempuan itu: “Janganlah kamu takut; sebab aku tahu kamu mencari Yesus yang disalibkan itu. 6  Ia tidak ada di sini, sebab Ia telah bangkit, sama seperti yang telah dikatakan-Nya. Mari, lihatlah tempat Ia berbaring. (Mat 28:5,6)

Dalam Minggu Paskah ini kita akan membaca Kitab Suci dengan menggunakan pendekatan hermeneutika ekologis. Harus diakui bahwa selama ini kita membaca Kitab Suci dengan pendekatan antroposentris yang berpusat pada manusia sehingga bumi sering kali terabaikan, serta mengalami eksploitasi dan penindasan. Yang dimaksud dengan “bumi” di sini adalah ekosistem total, yakni jaringan kehidupan di mana manusia dan makhluk lain terjalin erat. Hermeneutika ekologis mengembalikan peran bumi sebagai subjek dalam teks Kitab Suci.

Norman C. Habel menawarkan enam prinsip membaca Kitab Suci dengan perspektif ekologis. Pertama, alam semesta dan bumi memiliki nilai intrinsik, bukan sekadar alat bagi manusia. Kedua, bumi adalah komunitas kehidupan, di mana semua makhluk saling terhubung dan bergantung. Ketiga, bumi adalah subjek yang dapat bersuara, termasuk menentang ketidakadilan. Keempat, alam semesta dan bumi adalah bagian dari desain kosmik, masing-masing memiliki makna di dalam rencana Allah. Kelima, keseimbangan dan keragaman bumi penting, sehingga masing-masing dapat menjadi mitra dalam menjaga kehidupan. Keenam, bumi bukan sekadar objek pasif, karena bumi mampu melawan ketidakadilan.[1] Dan menyertakan pertanyaan secara kritis: apakah teks memberi keadilan bagi bumi? Apakah bumi hanya dilihat sebagai sumber daya bagi manusia, atau juga sebagai subjek bernilai? Apakah bumi diperlakukan sebagai suara yang hidup, atau hanya sebagai objek eksploitasi?

Dengan sudut pandang ini, maka kebangkitan Kristus adalah wujud kasih Allah, bukan hanya bagi manusia, tetapi juga seluruh ciptaan. Kebangkitan Kristus adalah awal ciptaan baru yang menyatakan dengan jelas bahwa keadilan, rekonsiliasi, dan pemulihan tidak hanya bagi manusia, tetapi juga seluruh kosmos. Allah tidak pernah memisahkan manusia dari ciptaan lain. Kasih setia-Nya bersifat inklusif, menopang seluruh kehidupan. Kebangkitan Kristus menjadi pusat karya pemulihan di mana Allah mendamaikan yang retak, menegakkan yang runtuh, serta mengubah yang dianggap remeh menjadi berharga. Maka iman kepada Kristus tidak hanya soal keselamatan pribadi, tetapi panggilan untuk meninggalkan gaya hidup lama yang serakah, dan mengenakan manusia baru yang penuh kasih, adil, dan ramah terhadap bumi. Dengan demikian, Kristus yang bangkit menghadirkan shalom kosmik, di mana manusia, sesama, dan seluruh ciptaan hidup bersama dalam harmoni. Gereja dipanggil menjadi saksi dan pelaku hidup baru itu, dengan merawat bumi sebagai bagian tak terpisahkan dari keselamatan Allah. A M I E N.

“ SELAMAT MERAYAKAN KEBANGKITAN TUHAN YESUS….
SELAMAT PASKAH….SELAMATKAN BUMI…! ”

[1] Norman C. Habel, “Introducing Ecological Hermeneutics.” Dalam Exploring Ecological Hermeneutics, editor Norman C.  Habel, Peter Trudinger (Atlanta: Socciety of Biblical Literature, 2008), 2.