IMAN YANG LENTUR TAK AKAN GUGUR
( Masa Pentakosta –Gereja Yang Adaptif )
( Yohanes 14:15-17a) 15 “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku.16 Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamuseorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya,17 yaitu Roh Kebenaran…”
“ Salam sejahtera, Damai dan Kasih Tuhan Yesus menyertai saudara sekalian …”
Bacaan leksionari pada Minggu Paskah VI ini menunjukkan masa transisi dari Paskah menuju Pentakosta, dari kebangkitan menuju pencurahan Roh Kudus. Di masa transisi tersebut tentunya umat Tuhan membutuhkan kemampuan untuk bertahan tetap setia. Daya tahan yang diperlukan tentu saja bukan daya tahan yang kaku tetapi daya tahan yang lentur. Apa yang dapat kita lakukan sebagai orang percaya? Pada Minggu Paskah VI ini kita diajak untuk bertahan, menunggu, belajar, dan menyesuaikan diri sebagai proses kita beriman kepada Allah dengan berporoskan pada “Kebangkitan Kristus” dan pengharapan pada kedatangan-Nya kembali. Pertanyaannya:Bagaimana kita bisa beriman secara “lentur” di masa ini? Melalui tema hari ini, kita akan diajak memiliki iman yang adaptif, dan bukan iman yang “liar”.
Kita hidup di dunia yang penuh ketidakpastian. Banyak orang panik dan bertanya, “Mana kebenaran yang harus saya pegang?”. Sebagian orang menjadi sangat kaku, sehingga mudah retak saat perubahan datang. Sebagian lagi justru terbawa arus sampai kehilangan arah. Di sinilah kita membutuhkan iman yang lentur: iman yang mampu menanggapi perubahan, tetap menyuarakan kebenaran, tanpa kehilangan kasih dan prinsip.
Apa yang dilakukan Paulus juga bisa kita teladani dalam kehidupan sehari-hari dalam upaya mewartakan berita Injil, berita sukacita. Bagaimana Injil bisa sampai kepada kita, yang berbeda waktu berabad-abad dari masa Kristus di dunia? Karena kelenturan iman dan ketangkasan rohani para pekabar Injil. Injil menjadi relevan karena selalu menggunakan bahasa yang kontekstual dengan setiap perubahan. Itu semua adalah karya Roh. Dan kita pun turut terlibat di dalam karya tersebut. Oleh karena itu marilah senantiasa menjadi lentur dalam hidup sehari-hari:
- Mau mendengar sebelum bicara. Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering ingin cepat menanggapi, cepat membela iman, atau cepat menilai. Iman yang lentur mengajak kita mendengar lebih dulu—mendengar cerita orang lain, pergumulannya, cara berpikirnya. Contoh sederhana: Saat berdiskusi di keluarga, kantor, atau media sosial, kita tidak langsung menyerang atau menghakimi, tetapi bertanya dan memahami. Dari situ, kita bisa menyampaikan iman dengan lebih bijaksana.
- Tetap berpegang pada Kristus, apa pun situasinya. Kelenturan bukan berarti melepas pegangan. Justru kita semakin kuat karena berakar pada kasih Kristus dan kuasa kebangkitan-Nya. Contohnya: saat menghadapi tekanan hidup, ketidakadilan, atau godaan untuk berkompromi, kita memilih tetap jujur, tetap mengasihi, tetap berharap (meskipun tidak selalu mudah).
- Biarkan hidup kita berbicara. Iman tidak selalu harus dijelaskan panjang lebar. Banyak orang justru melihat Kristus lewat sikap, tindakan, dan cara kita memperlakukan sesama. Contohnya: Bersikap adil di tempat kerja, hadir bagi mereka yang terluka, berani berdialog tanpa merendahkan yang berbeda.
Iman yang lentur bukan iman yang lemah, tetapi iman yang cukup kuat untuk dibentuk. Dan iman seperti itulah yang tidak akan gugur, justru akan semakin memuliakan Allah.AMIEN. [Masa Pentakosta – 2026].