FIRMAN YANG MENCIPTA, MEMELIHARA DAN MENTRANSFORMASI
Matius 13:(1-9), (18-23).
(Matius 13:23) Yang ditaburkan di tanah yang baik ialah orang yang mendengar firman itu dan mengerti, dan karena itu ia berbuah, ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat.”
“ Salam sejahtera, kasih karunia dan damai dari Tuhan Yesusbagi saudara sekalian “
Dalam Iman Kristen, Firman Allah tidak hanya dipahami secara tekstual (tulisan-tulisan Alkitab). Lebih dari itu Firman Allah pada hakekatnya adalah Allah itu sendiri. Mengenai hal ini Injil Yohanes menerangkan tentang jati diri Yesus yang sejatinya adalah logos atau Sang Firman yang menjadi manusia (lih. Yoh 1:14). Jadi logos atau Sang Firman bukan sekedar kata-kata atau ucapan yang keluar dari Allah dan terpisah dari Allah, melainkan Allah itu sendiri. Di sisi lain, konsep tentang firman yang bersifat tekstual (Alkitab) juga menjadi pemahaman umum bagi orang percaya. Alkitab dilihat sebagai pegangan hidup yang di dalamnya terdapat perintah-perintah Allah yang harus dipelihara dan dilakukan oleh setiap orang percaya. Dengan demikian, firman Allah akan terus hadir di sepanjang zaman untuk memelihara iman serta menghadirkan pembaruan bagi manusia, sebab Firman itu tidak berhenti dan terkurung dalam bentuk ‘tekstual’ saja.
Melalui Perumpamaan tentang Penabur, Yesus menguraikan ada 4 kelompok tanggapan yang digambarkan dengan jenis-jenis tanah. Meskipun sosok Penabur dan benih tidak dijelaskan secara langsung, namun dalam konteks ini sudah dapat dimengerti bahwa Penabur adalah Yesus sendiri sedangkan benih adalah firman dan tindakan-Nya. Tentang benih yang ditaburkan di pinggir jalan, Yesus menerangkan bahwa mereka adalah orang-orang yang mendengar tetapi tidak memahami ajaran Yesus dan tindakan Yesus dalam menghadirkan keselamatan. Benih yang ditaburkan di tanah yang berbatu adalah orang-orang yang menerima firman Yesus tetapi tidak tahan dengan penindasan dan penganiayaan oleh karena firman itu.
Yesus membuka kesadaran akan konsekuensi dalam menerima Dia dan firman-Nya adalah perlawanan dunia. Ketika dunia melawan balik lalu terjadi penindasan, maka orang-orang tidak tahan dan meninggalkan Yesus. Sedangkan gambaran tentang benih yang ditaburkan di tengah semak duri menunjuk pada orang-orang yang mendengar firman dan mengikuti Yesus tetapi terguncang oleh kecemasan dunia dan godaan kekayaan dunia. Tiga kelompok di awal ini merupakan tanggapan negatif atas benih (firman) yang ditaburkan oleh Sang Penabur (Yesus). Pada kelompok terakhir yaitu benih yang ditaburkan di tanah yang baik adalah orang-orang yang memberi tanggapan positif atas firman Tuhan. Mereka mendengarkan, memahami dan menjadikan firman Tuhan sebagai dasar pembaruan hidup. Mereka berani menanggung penderitaan oleh karena perlawanan dunia terhadap Kristus dan ajaran-Nya. Kekayaan, kesuksesan dan segala bentuk kemelekatan hidup pada dunia ini tidak lagi membawa kecemasan, sebab mereka sudah memusatkan diri pada Tuhan, Sang Sumber kehidupan.
Dasar hidup orang percaya adalah sabda Tuhan. Secara tekstual, sabda Tuhan adalah tulisan-tulisan yang ada di dalam Alkitab yang menjadi pegangan bagi hidup orang percaya. Sabda Tuhan melahirkan iman kepada Allah yang membawa perubahan dan pembaruan bagi orang percaya lewat laku hidup yang selaras dengan kehendak-Nya. Tindakan-tindakan orang percaya ini juga yang pada gilirannya ikut memelihara kehidupan alam semesta sebagai ciptaan Allah. Namun di sisi lain, kita juga memahami bahwa karya dan kuasa Allah bersifat kekal. Rancangan kasih dan keselamatan yang Tuhan hadirkan tentu saja tidak berhenti pada sejarah umat-Nya yang tertuang di dalam Alkitab. Di sinilah fungsi Alkitab sebagai firman Tuhan memandu kita untuk mengolah kehidupan dengan segala pergumulan-pergumulan baru sesuai dengan kondisi zaman. Firman Tuhan akan terus hidup di sepanjang masa. Ia tidak terkurung dalam ruang dan waktu. Di sinilah kita memahami bahwa Firman Tuhan bukan lagi sebatas tekstual (Alkitab), sebab Firman itu adalah Allah sendiri. Bukankah iman kita tertuju pada Yesus Kristus yang adalah Sang Sabda, Firman Allah yang hidup. Kristus yang berkarya di tengah hidup manusia untuk mendatangkan keselamatan bagi seluruh ciptaan. AMIEN.[Khotjang-Juli2026]