MENGENAL DAN MENGIKUT YESUS
( Yohanes 1: 37-38) 37 Kedua murid itu mendengar apa yang dikatakannya itu, lalu mereka pergi mengikut Yesus. 38 Tetapi Yesus menoleh ke belakang. Ia melihat, bahwa mereka mengikut Dia lalu berkata kepada mereka: “Apakah yang kamu cari?” Kata mereka kepada-Nya: “Rabi (artinya: Guru), di manakah Engkau tinggal?”
“ Salam sejahtera, kasih karunia dari Tuhan Yesus menyertai saudara sekalian “
Seorang teolog bernama Agustinus (354-430 M), memiliki quote yang terkenal, yaitu “Saya percaya agar dapat mengerti”. Menurutnya, untuk dapat memahami tentang iman Kristen, seseorang harus mengawalinya dengan sikap percaya. Percaya yang dimaksudkan adalah perjalanan untuk menjadi semakin percaya. Di kemudian hari, pendapat Agustinus ini semakin diteguhkan melalui pandangan Anselmus (1036-1086) yang menulis sebuah buku dengan judul “Iman Mencari Pengertian” (Latin: Fides Quaerens Intellectum). Anselmus berpendapat bahwa iman atau benih-benih iman pada seseorang akan mendorongnya mencari pengetahuan tentang apa yang ia imani, sehingga iman itu semakin bertumbuh.
Yohanes memutuskan untuk menerima panggilan sebagai “orang yang berseru-seru di padang gurun” menyiapkan jalan bagi Tuhan. Ini ia lakukan sekalipun belum memiliki pengenalan tentang Yesus. Namun, oleh karena Roh Kudus ia menjadi mengerti. Hal yang sama juga dilakukan oleh Andreas, Simon, dan murid yang lain. Bermula dari kesediaan untuk mempercayai apa yang didengar tentang Yesus, lalu mencari tahu tentang apa yang mereka percayai itu. Mengenal dan mengikut Yesus adalah sebuah perjalanan untuk “datang”, “melihat”, dan “mengalami” sendiri. Perjalanan yang ditempuh tidak selalu mudah. Kerap berjumpa dengan kelemahan manusiawi seperti yang diakui oleh hamba Tuhan dalam Kitab Yesaya. Namun, menyadari kelemahan dan bersedia untuk datang kepada Tuhan yang mengutus akan memulihkan dan meneguhkan kembali panggilan. Untuk itu, diperlukan keterbukaan hati untuk mengalami hidup bersama Tuhan sebagaimana disaksikan oleh Pemazmur. AMIEN.