RENUNGAN WARTA GEREJA GKJ KLATEN MINGGU, 22 FEBRUARI 2026

KESAHAJAAN BUKAN KESERAKAHAN

( Matius 4:1-3 ) 1 Maka Yesus dibawa oleh Roh ke padang gurun untuk dicobai Iblis. 2  Dan setelah berpuasa empat puluh hari dan empat puluh malam, akhirnya laparlah Yesus. 3  Lalu datanglah si pencoba itu dan berkata kepada-Nya: “Jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti.”

“ Salam sejahtera, kasih dan keselamtan dari Tuhan Yesus bagi saudara sekalian “

Hari ini kita bersama memasuki Minggu Pra-Paskah 1 tahun 2026. Kita menggumuli Tema: “Kesahajaan Bukan Keserakahan “. Akan hal ini Mahatma Gandhi menyatakan : “Bahwa sejatinya dunia ini cukup untuk memenuhi kebutuhan semua orang, tetapi tidak untuk keserakahan semua orang.” Ungkapan yang diagungkan oleh Gandhi ini terbukti juga pada realitas hidup di masa kini. Akibat dari keserakahan itu amat sangat miris tidak kurang dari 25.000 orang mati kelaparan setiap harinya, karena ketidakadilan dan keserakahan sesamanya. Fakta memilukan itu sungguh kontras dengan tujuan mula Allah menciptakan manusia.

Alkitab mempersaksikan bahwa sejak awal dunia diciptakan, manusia pertama diberi mandat oleh Allah bukan untuk menjadi pribadi yang serakah dan tamak. Tuhan Allah memerintahkan Adam dan Hawa untuk mengelola alam semesta dengan mengerjakan dan memeliharanya sebagai bagian yang tak terpisahkan dari ruang kehidupannya. Namun demikian, tugas dengan tujuan mulia dari Allah itu pun gagal ditunaikan oleh manusia pertama. Lagi-lagi, perilaku serakah ini menjadi akar dari kegagalan manusia yang lalu berakibat pada kejatuhannya ke dalam dosa. Larangan yang justru dilanggar ini menunjukkan betapa purba sekaligus berbahayanya dosa serakah.  Di satu sisi, sejak awal dan seterusnya Allah merindukan manusia sebagai ciptaan-Nya untuk merawat dengan baik, bumi dan segala isinya. Artinya, saat mengusahakan bumi bagi dirinya, kesahajaan (kewajaran; secukupnya) mesti menjadi sikap yang melandasi gerak karya manusia.

Namun di sisi lain, dosa keserakahan yang ditandai dengan keinginan untuk menguasai semuanya hanya bagi dirinya yang mendominasi hidup manusia. Akan hal ini Allah tidak menyerah, maka Allah Bapa mengutus Yesus Kristus turun ke dunia untuk menyelamatkan manusia. Sebelum  Yesus berkarya Dia menunjukkan bagaimana cara melawan dosa serakah melalui pencobaan di padang gurun yang dialami-Nya. Betapa Ia yang adalah Putra Allah, justru memilih langkah sahaja ketika diperhadapkan pada berbagai kemudahan serta gemerlap dunia. Melalui pembacaan Sabda serta perenungannya pada hari ini, sebagai umat Tuhan, kita diajak untuk menghayati hidup beriman kepada Allah melalui lelaku hidup kesahajaan serta tidak hidup dalam keserakahan. Untuk itu kita diajak belajar dari sikap Tuhan Yesus  yaitu  ketundukan hanya kepada Allah menjadi pandu bagi langkah kita saat diperhadapkan pada tawaran untuk menjadi serakah atas dunia. Sikap hidup bersahaja atas dunia menolong kita dalam menjalani peran untuk mengerjakan dan merawat alam semesta. AMIEN. [sp]