MENGUBAH PEDANG MENJADI MATA BAJAK
(Nats: Yesaya 2:3,4)
3 … dan banyak suku bangsa akan pergi serta berkata: “Mari, kita naik ke gunung TUHAN, ke rumah Allah Yakub, supaya Ia mengajar kita tentang jalan-jalan-Nya, dan supaya kita berjalan menempuhnya; sebab dari Sion akan keluar pengajaran dan firman TUHAN dari Yerusalem.” 4 Ia akan menjadi hakim antara bangsa-bangsa dan akan menjadi wasit bagi banyak suku bangsa; maka mereka akan menempa pedang-pedangnya menjadi mata bajak dan tombak-tombaknya menjadi pisau pemangkas; bangsa tidak akan lagi mengangkat pedang terhadap bangsa, dan mereka tidak akan lagi belajar perang.
“ Salam sejahtera, kasih karunia dari Tuhan Yesus menyertai Saudara sekalian “
Minggu ini 30 November 2025, menjadi awal masuk Minggu Adven dengan Tema Masa Adven tahun 2025 ini : “ Lawatan Allah Mengatasi Ketakutan “ Kekerasan dan pertikaian berakibat pada rusaknya harmoni kehidupan. Peperangan selalu membawa kehancuran dan jatuhnya korban yang terluka atau meninggal. Kematian dan kehancuran menjadi begitu sia-sia hanya karena ego dan kemarahan yang tak terbendung. Manusia hidup di tengah bayang-bayang ketakutan karena kekerasan. Harapan untuk mengupayakan hidup menjadi runtuh seiring dengan kekerasan yang terjadi. Sejak penciptaan hingga kini, pun juga di masa depan, sejatinya Tuhan menghendaki kehidupan dunia yang penuh kedamaian dan ketertiban. Di sepanjang sejarah kehidupan, Ia terus terlibat dalam menghadirkan keadilan dan perdamaian bagi seluruh ciptaan. Karya Allah yang agung dan mulia terjadi melalui kedatangan-Nya ke dunia dalam diri Yesus Kristus. Kelahiran Yesus menjadi pengharapan besar akan hadirnya keadilan dan perdamaian yang mampu mengatasi ketakutan manusia.
Masa Adven adalah masa penantian akan kedatangan Kristus. Di dalam penantian itu, kita diajak untuk mempersiapkan diri menyambut kehadiran Kristus, baik secara liturgis ataupun pengharapan eskatologis. Setiap tahun gereja-gereja mempersiapkan diri menyambut perayaan liturgis di masa Adven dan Natal. Di balik perayaan liturgis di tahun-tahun yang terus berjalan itu, gereja-gereja juga memelihara pandangan eskatologis bahwa Kristus akan datang ke dunia untuk kedua kalinya. Tidak ada yang mengetahui tentang waktu kedatangan-Nya. Kerahasiaan waktu itulah yang justru menjadikan setiap orang percaya selalu berhati-hati dan waspada atas godaan dan cobaan di tengah dunia.
Seruan perdamaian menjadi berita yang sangat penting untuk disuarakan di tengah dunia yang terus berguncang saat ini. Kristus yang lahir di tengah dunia telah menyatakan keberpihakan-Nya pada kehidupan lewat karya perdamaian dan keadilan. Gereja sebagai tubuh Kristus sekaligus penerima mandat dari Allah semestinya terus mengupayakan karya-karyanya sebagai wujud keberpihakan pada kehidupan. Gereja lebih mencintai hidup, bukan kematian. Gereja lebih memilih perdamaian dan hidup persahabatan, bukan kekerasan dan permusuhan. Nilai perdamaian dan persahabatan inilah yang terus dijaga di dalam tubuh gereja serta disebarkan di tengah kehidupan dunia. Janji pemulihan Allah dalam Yesaya 2:1-5 ini bersifat universal, tidak hanya ditujukan kepada bangsa Yehuda saja. Meskipun pusat dari nubuatan itu terjadi di Yerusalem, di mana bukit Sion sebagai lokasi Bait Allah berdiri kembali, tetapi perdamaian akan dimulai di sana. Di Sion Allah bertindak sebagai Hakim yang memutuskan perkara-perkara sekaligus mengajarkan jalan kebenaran dan keadilan-Nya. Pengajaran Allah memberikan terang bagi bangsa-bangsa untuk melahirkan perdamaian. Di (ayat 4), Yesaya menggambarkan dengan sangat puitis, “pedang akan ditempa menjadi mata bajak dan tombak menjadi pisau pemangkas”. Pedang dan tombak yang menjadi simbol peperangan diubah menjadi mata bajak dan pisau pemangkas yang menjadi simbol (upaya) kehidupan. Dengan kata lain, setiap bangsa akan melakukan rekonsiliasi perdamaian. Tidak ada lagi ketakutan dan kehancuran oleh karena peperangan. Setiap bangsa memperjuangkan perdamaian dan lebih memilih untuk menata kehidupan bersama. AMIEN