KASIH YANG TERUTAMA
( Lukas 10:15-16) 15 Tetapi Tuhan menjawab dia, kata-Nya: “Hai orang-orang munafik, bukankah setiap orang di antaramu melepaskan lembunya atau keledainya pada hari Sabat dari kandangnya dan membawanya ke tempat minuman? 16 Bukankah perempuan ini, yang sudah delapan belas tahun diikat oleh Iblis, harus dilepaskan dari ikatannya itu, karena ia adalah keturunan Abraham?”
“ Salam damai sejahtera dan kasih karunia dari Tuhan Yesus bagi saudara sekalian “
Mewujudkan kehidupan dengan kasih sebagai perilaku utama menjadi kerinduan bagi semua orang. Karena sesungguhnya nilai-nilai kasih itu adalah nilai utama kehidupan itu sendiri. Namun dalam kenyataan banyak kita temukan dan bahkan bisa dirasakan langsung bagaimana kasih nilai hidup dengan kasih itu semakin menjauh dan tipis dilakukan ditengah perjumpaan hidup kita dengan sesama manusia. Dalam konteks bulan kebangsaan ini, kita mencoba menghayati apakah ditengah hidup masyarakat Indonesia ini sehari-hari juga masih mendambakan nilai-nilai kasih untuk dilaksanakan didalam hidup antar sesama masyarakat yang ada?
Konflik dan sikap saling merendahkan anatar sesama anak bangsa, akhir-akhir ini dapat dengan mudah dilihat, dsaksikan, dan diunduh dari berbagai sarana multi media masa dan media sosial yang ada di masyarakat kita. Konflik dengan isu pribadi, ketegangan antar pemimpin partai dengan isu-isu politik yang sedang marak dibicarakan, sampai dengan konflik pemimpin dengan rakyat menyoal isu-isu keadilan sosial masyarakat seperti harga sembako yang dirasa memberatkan, kenaikan pajak, BBM, dan mahalnya beaya pendidikan. Anarkis bukan saja aksi kekerasan fisik sekarang ini, tapi anarkis dalam mengekspresikan sikap dan mengemukakan pendapat di depan publik juga banyak terjadi.
Orang menyerang sosok pribadi didepan publik dengan diksi kalimat yang menyinggung perasaan dan bahkan merendahkan harkat martabat mapun hak asasi pribadi orang lain; bahkan dalam ranah relasi antar agama pun sering dijumpai gaya berdiskusi yang menyertakan bumbu-bumbu diksi kalimat merendahkan dan menyerang satu keyakinan terhadap keyakinan agama yang lain. Sungguh ini menjadi suwara-suwara yang sangat bersliweran bahkan memenuhi ruang maya di dunia media kita setiap hari. Semua ini menjadi gambaran kecil bagaimana nilai peradaban hidup dengan kasih, semakin menjauh dari masyarakat bumi pertiwi ini.
Bacaan Injil Lukas ini menggambarkan, bagaimana Tuhan Yesus tetap mengedepankan dan menghidupi kasih yang murni bagi manusia yang hidup di dunia; Tuhan Yesus menolong dan menyembuhkan seorang wanita yang bunkuk badannya selama 18 tahun; oleh belaskasihan yang ada di hati Yesus, wanita ini disembuhkanNya dengan ajaib. Sekalipun saat itu bertepatan dengan hari Sabat, yang oleh sebagaian orang penganut agama Yahudi, perbutan ini dilarang. Karena semua orang di hari Sabat tidak boleh mengerjakan pekerjaannya. Tetapi kasih sebagai nilai kehidupan utama, bagi Yesus justru harus lebih utama sekalipun diperhadapkan dengan larangan hukum agama. Jadi Kasih melebihi agama, kasih menjadi nafas yang harus menghidupi agama, kasih juga menjadi atmosfer semuai tata nilai hidup agama. Di dalam menjalani agama disanlah juga menjalani dan menjunjung tinggi nilai hidup kasih tanpa cedera. Wujudkan kasih sebagai yang utama dari setiap penerpan nilai-nilai hidup beriman, beragama, dan bertaqwa kita kepada TUHAN Allah. Tanpa kasih, semua keluhuran hidup kita didunia tidak ada artinya apa-apa. Wujudkan kasih sebagai yang terutama….di rumah, digereja, dan dimasyarkat luas kita. Tuahn Yrsus memberkati. AMIEN.
==SP==