RENUNGAN WARTA GEREJA GKJ KLATEN MINGGU, 21 SEPTEMBER 2025

HIDUP DALAM KESALEHAN

(Lukas 16: 4)  Aku tahu apa yang akan aku perbuat, supaya apabila aku dipecat dari jabatanku sebagai bendahara, ada orang yang akan menampung aku di rumah mereka.

“ Salam sejahtera, kasih Allah Bapa dan kemurahan Tuhan Yesus, ada pada saudara sekalian…”

Hidup dalam kesalehan menjadi topik kita minggu ini, mempunyai tujuan mengingatkan bahwa hidup ini begitu berharga; nilai dan berharganya itu bukan pada hal lahiriah kita, juga bukan karena kedudukan sosial, jumlah kekayaannya, atau tingkat intelektual kita yang menjadikan berharga. Namun nilai tertinggi harga hidup yang sejati itu tersimpan didalam sikap tulus hati kita, ketundukan diri dalam ketaatan kepada Tuhan, serta kepatuhan hidup menjalankan hukum-hukum dalam kehidupan: hukum agama, masyarakat, bahkan bangsa dan negara. Menjalankan dengan segala kesungguhan serta menjaga supaya nilai hidup seperti ini melekat didalam diri kita, merupakan kesalehan yang sejati.

Jadi saleh tidak sama dengan orang beragama, tapi saleh lebih kepada sikap hidup yang lahir dari batin murni yang terdalam; menghadirkan sikap tulus, tunduk, dan patuh kepada kedaulatan dan keagungan kepada Hadirat TUHAN Allah. Sikap saleh yang demikian ini menjadikan kehiduipan itu berbobot baik.   Hidup dalam kesalehan berarti menata hidup dengan bijaksana di hadapan Allah, bukan hanya di hadapan manusia. Dalam Lukas 16:4, sang bendahara menyadari keterbatasannya dan segera mencari jalan agar masa depannya terjamin. Dari sini kita belajar bahwa manusia yang bijaksana adalah yang mampu melihat ke depan dengan penuh kesadaran rohani, bukan hanya memikirkan kebutuhan sesaat. Firman Tuhan mengingatkan, “Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan” (Amsal 1:7). Kesalehan lahir dari hati yang takut akan Tuhan, yang menuntun kita untuk memilih jalan hidup yang benar.

Kesalehan bukan sekadar perilaku lahiriah, melainkan kesetiaan yang tampak dalam hal kecil maupun besar. Tuhan Yesus menegaskan, “Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar” (Lukas 16:10). Kesetiaan dalam hidup sehari-hari dalam bekerja, berkeluarga, dan melayani adalah bukti nyata dari kesalehan kita. Dunia mungkin menilai kesuksesan dari harta atau kedudukan, tetapi bagi Tuhan, ukuran utamanya adalah ketulusan dan kesetiaan hati.

Akhirnya, hidup dalam kesalehan menuntun kita untuk tidak mendua hati antara Allah dan harta duniawi. Tuhan Yesus menutup perikop ini dengan jelas: “Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon” (Lukas 16:13). Kesalehan menuntun kita untuk menempatkan Allah sebagai pusat hidup, sehingga segala keputusan dan perbuatan kita menjadi persembahan yang berkenan di hadapan-Nya. Dengan demikian, kita akan hidup dengan penuh damai sejahtera, menjadi terang dan teladan bagi dunia yang haus akan kasih dan kebenaran Tuhan. A M I E N .